Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspor Biji-Bijian Dibuka Kembali, Tantangan Ini Masih Harus Dihadapi Ukraina

Ukraina dan Rusia menandatangani perjanjian paralel dengan Turki dan PBB pada pertemuan di Istanbul pada Jumat (22/7/2022) untuk memulihkan ekspor.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 23 Juli 2022  |  03:34 WIB
Ekspor Biji-Bijian Dibuka Kembali, Tantangan Ini Masih Harus Dihadapi Ukraina
Presiden Joko Widodo (kanan) berjalan bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Istana Maryinsky, di Kyiv, Ukraina, Rabu (29/6/2022). ANTARA FOTO/Setpres - Agus Suparto
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Ukraina akhirnya meraih kesepakatan untuk kembali mengekspor biji-bijian lewat Laut Hitam. Namun, memulai kembali pengiriman tidak akan mudah.

Dilansir Bloomberg, pejabat pemerintah Ukraina dan Rusia menandatangani perjanjian paralel dengan Turki dan PBB pada pertemuan di Istanbul pada Jumat (22/7/2022) untuk memulihkan ekspor dari salah satu eksportir gandum, jagung, dan minyak nabati utama dunia.

Kesepakatan ini bisa menjadi kabar baik bagi pasar makanan global yang tegang dan ekonomi Ukraina yang hancur akibat invasi Rusia.

Namun bahkan sekarang dengan kesepakatan itu, akan butuh waktu bagi para pedagang dan pejabat untuk memulai pengiriman. Ukraina menghadapi tugas membersihkan ranjau laut di sepanjang jalur pengiriman, menemukan kapal yang cukup untuk mengangkut gandum yang tertimbun, dan mengubah rute kereta api dan truk yang sekarang digunakan di tempat lain.

Mendapatkan asuransi untuk menutupi operasi juga merupakan tantangan. Keberhasilan rencana itu juga bergantung pada jaminan keamanan Moskow dan Presiden Vladimir Putin memenuhi kesepakatannya, pada saat Kremlin bergerak menginvasi timur Ukraina.

Analis dan pejabat barat skeptis tentang seberapa cepat Ukraina dapat melanjutkan perannya sebagai pusat pertanian global.

Andriy Kupchenko, kepala analis APK-Inform, mengatakan berada di perairan pelabuhan Ukraina masih sangat berbahaya selama operasi militer aktif berlangsung di wilayah Ukraina.

“Ekspor Ukraina tidak mungkin kembali ke tingkat optimal musim ini,” katanya, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (22/7/2022).

Sebagai tanda betapa tegangnya situasinya, Ukraina menandatangani perjanjian dengan Turki dan PBB, bukan langsung dengan Rusia. Begitu pun dengan Rusia. Kepala staf Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan sebelumnya bahwa Ukraina tidak akan mengizinkan pengawalan oleh kapal-kapal Rusia atau membiarkan kapal Rusia berada di pelabuhan Ukraina.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan di televisi pemerintah bahwa Rusia tidak akan mengambil keuntungan dari fakta bahwa pelabuhan akan dibuka.

Puluhan kapal terjebak di Ukraina sejak perang dimulai, memaksa negara itu untuk beralih ke jalur kereta api dan truk serta pelabuhan sungai yang hanya dapat menampung volume jauh lebih kecil. Ketika pelabuhan Laut Hitam dibuka kembali, mengamankan kapal dan menemukan perusahaan asuransi yang bersedia mendukung kargo yang menuju ke sana akan sangat sulit dan mahal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Perang Rusia Ukraina Ukraina Krisis Ukraina Rusia
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top