Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gandum Terganggu Perang Rusia-Ukraina, Bulog Ingatkan Diversifikasi Pangan

Bulog mengingatkan soal diversifikasi pangan sehubungan dengan gangguan pasokan gandum sebagai dampak perang Rusia-Ukraina.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 22 Juli 2022  |  01:30 WIB
Gandum Terganggu Perang Rusia-Ukraina, Bulog Ingatkan Diversifikasi Pangan
Ladang gandum -
Bagikan

Bisnis.com, SEMARANG - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menegaskan pentingnya diversifikasi pangan di tengah dampak perang Rusia-Ukraina, terhadap salah satu bahan pangan yakni gandum.

Budi Waseso, atau yang biasa disapa Buwas, menekankan perintah Presiden Joko Widodo untuk mewaspadai dampak global yang dipicu oleh konflik kedua negara tersebut. Apalagi, perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2022 itu turut berdampak pada ketersediaan gandum.

"Dengan Rusia-Ukraina berperang masalah gandum untuk pangan juga bermasalah. Dulu kita impor gandum dari Ukraina sekarang terhenti," terangnya di Sentra Penggilingan dan Pengolahan Beras Modern (Modern Rice Milling Plant/MRMP) di Kendal, Jawa Tengah, Kamis (21/7/2022).

Mengutip dataindonesia.id, Indonesia cukup banyak mengimpor gandum dan emslin dari Ukraina yakni senilai US$2,83 miliar pada 2021. Ukraina menjadi negara eksportir gandum terbesar terhadap Indonesia setelah Australia, yang mengekspor gandum ke RI dengan nilai US$4,63 miliar.

Kendati ketersediaan gandum yang menjadi sorotan, Buwas bersyukur ketersediaan beras yang merupakan bahan makanan pokok di Tanah Air aman. Setidaknya dalam dua sampai dengan tiga tahun terakhir, Indonesia nyaris tidak melakukan impor beras.

Hal tersebut, timpal Buwas, tidak langsung membuat Bulog terlena. Untuk itu, dia menekankan pentignya diversifikasi pangan.

"Jangan semua [bergantung kepada] beras walaupun itu kebutuhan pokok [hampir] di seluruh Indonesia. Kita ada penggantinya yaitu ubi, singkong, dan lain-lain," terangnya.

Di sisi lain, Buwas menyampaikan Bulog akan terus menjaga ketahanan pangan di dalam negeri. Saat ini, dia mencatat stok ketersediaan cadangan beras pemerintah (CBP) sekitar 1,1 juta ton. Stok tersebut masih berada di kisaran berdasarkan Rapat Koordinais Terbatas (Rakortas) Kebijakan Pangan oleh pemerintah yakni 1-1,5 juta ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bulog gandum Perang Rusia Ukraina
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top