Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Simak Pertimbangan ADB Kerek Proyeksi Ekonomi Indonesia jadi 5,2 Persen

"Kegiatan ekonomi di Indonesia terus berangsur normal, sedangkan infeksi Covid-19 masih terkendali, terlepas dari naikknya jumlah kasus belakangan ini."
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 21 Juli 2022  |  14:24 WIB
Simak Pertimbangan ADB Kerek Proyeksi Ekonomi Indonesia jadi 5,2 Persen
Ilustrasi proyek konstruksi. - Kementerian PUPR
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Asian Development Bank atau ADB menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,2 persen tahun ini. Kinerja permintaan dalam negeri yang baik dan pertumbuhan ekspor yang stabil menjadi pendorong proyeksi itu.

Revisi proyeksi tersebut tercantum dalam Asian Development Outlook (ADO) Supplement yang dirilis hari ini, Kamis (21/7/2022). ADB menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari prakiraan sebelumnya pada April 2022, yakni 5,0 persen.

Direktur ADB untuk Indonesia Jiro Tominaga menjelaskan bahwa revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam ADO Supplement sejalan dengan naiknya proyeksi pertumbuhan Asia Tenggara. Untuk kawasan ini, ADB memperkirakan pertumbuhannya bisa mencapai 5,0 persen pada 2022, naik dari sebelumnya 4,9 persen.

"Kegiatan ekonomi di Indonesia terus berangsur normal, sedangkan infeksi Covid-19 masih terkendali, terlepas dari naikknya jumlah kasus belakangan ini," ujar Jiro pada Kamis (21/7/2022).

Melalui laporan itu, ADB pun memperkirakan inflasi Indonesia akan lebih tinggi tahun ini yakni mencapai 4,0 persen, naik pada proyeksi April 2022 lalu di angka 3,6 persen. Namun, proyeksi ADB itu sendiri masih dalam rentang target pemerintah terkait inflasi tahun ini, yakni 3±1 persen atau 2—4 persen.

ADB menilai bahwa tingginya harga komoditas menjadi penyebab utama naiknya proyeksi inflasi Indonesia. Kondisi itu menekan daya beli masyarakat, tetapi di sisi lain bisa meningkatkan penerimaan negara.

"Tingginya harga sejumlah komoditas ekspor utama mendatangkan keuntungan berupa penghasilan ekspor dan pendapatan fiskal, sehingga memungkinkan pemerintah untuk memberi bantuan di tengah kenaikan harga pangan, listrik, dan bahan bakar, sambil tetap mengurangi defisit anggaran," kata Jiro.

ADB sendiri memproyeksikan perekonomian Indonesia pada 2023 mampu tumbuh hingga 5,3 persen dan inflasi mencapai 3,3 persen. Artinya, ketika perekonomian lebih menggeliat, terdapat potensi turunnya inflasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi Inflasi sri mulyani ADB
Editor : Anggara Pernando
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top