Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bos Garuda (GIAA) Blak Blakan Soal Rencana Pasca PKPU

Manajemen Garuda Indonesia berharap agar proses PKPU bisa segera rampung agar perusahaan bisa berlari mengejar momentum pemulihan industri pasca pandemi.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 16 Juni 2022  |  16:10 WIB
Bos Garuda (GIAA) Blak  Blakan Soal Rencana Pasca PKPU
Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Internasional Yogyakarta. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) mengharapkan proses Penundaan Kewajiban Penundaan Pembayaran Utang (PKPU) dapat mencapai kesepakatan sehingga perseroan dapat ikut  meraih momentum pemulihan industri penerbangan.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menuturkan dalam proses negosiasi dengan kreditur, perseroan telah memaparkan rencana bisnis hingga 2030 mendatang. Para kreditur, sebutnya, menilai rencana bisnis tersebut realistis karena telah memasukkan asumsi pemulihan industri penerbangan ke-depannya.

“Yang ingin kami sampaikan, kami percaya industri akan membaik. Kami percaya akan banyak fokus ke rute domestik dan rute internasional yang menguntungkan,” ujarnya, Kamis (15/6/2022).

Irfan menjelaskan apabila proses PKPU ini berhasil, perseroan juga telah memiliki rencana untuk meningkatkan menambah jumlah pesawat sesuai dengan kesepakatan lessor. Pasalnya dalam kondisi penerbangan saat ini, maskapai tengah dihadapkan persoalan terbatasnya jumlah pesawat.

“Kami ingin PKPU cepat selesai dan kesepakatan diperoleh. Jadi kita bisa meraih momentum recovery industri ini,” tekannya.

Melansir dari situs resmi PKPU,  nilai tagihan utang Garuda tersebut tersebar untuk kreditur lessor, non-lessor, maupun kreditur preferen. Rinciannya, Daftar Piutang Tetap terbanyak kepada sebanyak 123 lessor sesuai jumlah senilai Rp104,371 triliun. Selanjutnya, DPT untuk lebih dari 300 kreditur non-lessor senilai Rp34,09 triliun. Terakhir, DPT kepada non-preferen kepada 23 kreditur berjumlah Rp3,9 triliun.

Irfan pun mengakui membutuhkan waktu yang panjang untuk bernegosiasi dengan para krediturnya. Pertemuan dan negosiasi dengan banyak pihak dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Maskapai pelat merah tersebut akan memanfaatkan sisa waktu sebelum proses voting untuk memaksimalkan diskusi guna mencapai persetujuan perdamaian.

“Nilainya memang banyak. Namun utang kita jangan dianggap ke lessor semua. Ada juga Bank lho. Memang tak bisa dimunafikkan yang besar ini, atau lessor ini complicated. Karena bicara kita bukan utang tapi kerja sama kita ke depan gimana. Kan pesawat mereka di sini kan,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top