Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menuju Netral Karbon 2050, Dunia Butuh Dana US$125 Triliun

Angka tersebut berdasarkan data United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 03 Juni 2022  |  01:55 WIB
Menuju Netral Karbon 2050, Dunia Butuh Dana US$125 Triliun
Bambang P.S. Brodjonegoro - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA- Dunia membutuhkan investasi terkait iklim sebesar US$125 triliun untuk mencapai emisi nol bersih pada  2050.

Hal itu diungkapkan Ketua Think 20 (T20) Bambang Brodjonegoro. "Angka tersebut berdasarkan data United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)," ujarnya dalam webinar T20 Indonesia yang diakses dari Jakarta, Kamis (2/6/2022).

Investasi tersebut mencakup investasi tahunan sebesar US$32 triliun di enam sektor utama yang menyumbang sepertiga dari produk domestik bruto (PDB) global pada tahun 2021.

Keenam sektor tersebut adalah kelistrikan yang membutuhkan investasi US$16 triliun, transportasi (US$5,4 triliun), bangunan (US$5,2 triliun), industri (US$2,2 triliun), bahan bakar rendah emisi (US$1,5 triliun), pertanian dan lahan lainnya. penggunaan (US$1,5 triliun).

Namun, ada kesenjangan yang lebih lebar antara kapasitas pembiayaan ekonomi hijau di negara berkembang dan negara maju. "Kapasitas ekonomi negara berkembang secara alami lebih rendah dari negara maju. Tidak mengherankan jika mereka memiliki kapasitas fiskal dan moneter yang lebih rendah," katanya.

Padahal, pandemi Covid-19 yang penanganannya membutuhkan banyak pembiayaan telah memperburuk kapasitas fiskal dan moneter tersebut. "Banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon dioksida, seringkali memiliki ruang fiskal yang terbatas dan hambatan pendanaan eksternal yang mengikat," tambah Bambang. 

Sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah menghabiskan banyak dana untuk mengurangi emisi karbon dioksida dalam skala besar dengan mengorbankan proyek-proyek pembangunan ekonomi jangka panjang penting lainnya. Proyek itu seperti yang terkait dengan kebutuhan dasar, mulai dari  infrastruktur, gedung sekolah, dan rumah sakit.

"Covid-19 semakin memperburuk hambatan fiskal yang dihadapi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah," katanya.

Oleh karena itu, kolaborasi antar negara sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan mitigasi perubahan iklim, tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top