Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Tinggalkan Pasar Modal dan Surat Utang AS

dalam catatan Bank of America Corp., (BofA) yang mengutip data EPFR Global, arus modal ekuitas global yang keluar mencapai US$5,2 miliar sepanjang sepekan terakhir.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 22 Mei 2022  |  16:05 WIB
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA — Investor meninggalkan aset utama dengan angka paling masif seperti pasar modal AS dan treasuries di tengah kekhawatiran pengetatan kebijakan moneter mendorong ekonomi ke jurang resesi.

Dilansir Bloomberg pada Jumat (20/5/2022), dalam catatan Bank of America Corp., (BofA) yang mengutip data EPFR Global, arus modal ekuitas global yang keluar mencapai US$5,2 miliar sepanjang sepekan terakhir, meski pasar modal AS berhasil menarik investasi US$0,3 miliar.

Obligasi yang ditinggalkan mencapai US$12,3 miliar. Hanya ada penambahan pada Treasury dan surat utang pemerintah. Para investor juga mencabut dananya pada uang tunai dan emas.

Pasar modal kehilangan hampir US$12 triliun sejak puncak pada Maret karena investor meninggalkan aset berisiko seiring dengan sikap hawkish bank sentral dan memanasnya inflasi.

Pada survei bulanan BofA pada pekan ini, ketakutan akan resesi menghantui risiko yang muncul dari inflasi dan peperangan di Ukraina. Dana investor di pasar modal menjadi yang paling kurus dalam 2 tahun terakhir.

Ahli strategi seperti David J. Kostin dari Goldman Sachs Group Inc., hingga Marko Kolanovic dari JPMorgan Chase & Co. mengatakan kekhawatiran akan resesi dalam waktu dekat terlalu berlebihan.

Namun, analis dari Morgan Stanley dan BofA mengatakan bahwa kekeringan di pasar ekuitas masih akan berlanjut.

Analis Deutsche Bank Jim Reid mengatakan belum ada tanda-tanda The Fed tidak senang dengan kondisi keuangan yang mengetat dan pasar terus meyakini kenaikan suku bunga acuan 50 basis poin pada Juni dan Juli.

"Tidak ada yang mengatakan mengembalikan inflasi ke target dari level setinggi itu akan mudah. Jadi, jika Anda menunggu peran The Fed, mungkin butuh beberapa saat," katanya.

Kendati ada penurunan indikator Bull & Bear dari BofA yang menghidupkan sinyal beli yang jelas pada saham, ahli strategi yang dipimpin oleh Michael Hartnett merekomendasikan dengan kuat untuk melakukan penjualan saat pasar bearish.

S&P 500 telah berupaya untuk pulih pada pekan ini setelah beradu dengan bear market atau periode ketika indeks pasar saham utama mengalami penurunan hingga 20 persen.

Namun, pantulannya hanya berumur pendek dan indikator acuan tersebut menunjukkan penurunan pekanan terpanjang sejak 2001.

Hartnett mengatakan pada 19 bear market di AS dalam 140 tahun terakhir, S&P 500 menunjukkan penurunan rata-rata 37,3 persen dengan durasi 289 hari.

Jika diulang, BofA mengatakan kondisi pasar yang bearish akan berakhir pada Oktober, dengan S&P 500 di angka 3.000 poin - sekitar 23 persen di bawah level saat ini dan Nasdaq di 10.000 poin, sekitar 16 persen lebih rendah.

"[Level indeks S&P 500 sebesar] 3.600 adalah kasus bullish yang baru," kata Hartnett dalam sebuah catatan, yang berarti capaian itu masih 7,7 persen di bawah level saat ini.

Sementara itu, pasar saham AS mencatatkan arus masuk senilai US$0,3 miliar, diikuti dengan US$0,2 miliar yang berasal dari saham Jepang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pasar modal ekonomi global Inflasi amerika serikat Resesi
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top