Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cuaca Buruk Awal Tahun, BUMI Tetap Patok Produksi Batu Bara 89 Juta Ton

PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) memasang target produksi batu bara mereka di angka 83 juta ton hingga 89 juta ton pada tahun ini.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 15 Mei 2022  |  18:16 WIB
Operasional tambang batu bara kelompok usaha Bumi Resources. - bumiresources.com
Operasional tambang batu bara kelompok usaha Bumi Resources. - bumiresources.com

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten batu bara PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) berusaha untuk meningkatkan produksi batu bara mereka di angka 83 juta ton hingga 89 juta ton pada tahun ini setelah sempat terkoreksi akibat cuaca buruk sepanjang Desember 2021 sampai Januari 2022.

Corporate Secretary sekaligus Direktur BUMI Dileep Srivastava mengatakan BUMI tidak berencana untuk mengajukan revisi rencana kerja dan anggaran belanja atau RKAB akibat realisasi produksi yang sempat terganggu faktor cuaca tersebut pada triwulan pertama tahun ini.

“Tidak ada perubahan dalam RKAB 2022 kami terkait dengan produksi sampai 89 juta ton dibandingkan dengan torehan 79 juta ton pada tahun lalu. Harapannya kami dapat memperbaiki volume produksi yang sempat terganggu akibat hujan sejak Desember 2021 hingga Januari 2022 setelah hujan La Nina diprediksi turun,” kata Dileep melalui pesan WhatsApp, Minggu (15/5/2022).

Dileep mengatakan cuaca buruk selama masa La Nina itu turut mempengaruhi realisasi produksi atau pasokan batu bara di dalam negeri yang ikut mengungkit harga di pasar internasional. Sementara itu, sanksi negara-negara blok barat terhadap batu bara Rusia juga ikut mengoreksi pasokan komoditas emas hitam itu di pasar dunia.

Di sisi lain, tidak adanya peningkatan kapasitas produksi lantaran minimnya pendanaan dari perbankan ikut menyebabkan pasokan batu bara dunia relatif terbatas. Sementara permintaan industri belakangan makin tinggi di tengah belum siapnya program transisi energi baru terbarukan atau EBT untuk menggantikan energi fosil tersebut.

“Artinya harga batu bara kemungkinan akan tetap tinggi pada tahun ini dan tahun-tahun berikutnya,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menerima sejumlah pengajuan revisi rencana kerja dan anggaran belanja atau RKAB terkait dengan penyesuaian kembali kapasitas produksi perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) batu bara pada triwulan kedua tahun ini.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan pengajuan revisi RKAB itu mengacu pada kinerja triwulan pertama 2022 perusahaan pemegang IUP yang sebagian berada di bawah target produksi yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Terdapat beberapa IUP yang mengajukan perubahan RKAB baik peningkatan rencana produksi maupun penurunan produksi batu bara tahun 2022. Rencana penurunan produksi yang diajukan mengacu pada kinerja triwulan 1 yang di bawah target produksi dan proyeksi kendala yang akan dihadapi,” kata Lana melalui pesan WhatsApp, Minggu (15/5/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara bumi resources izin usaha pertambangan ekspor batu bara
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top