Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Eks Petinggi The Fed Ragu AS Mampu Hindari Resesi

Menurut sebagian eks petinggi The Fed, mustahil untuk menghindari resesi di tengah usaha agresif menekan laju inflasi.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 04 Mei 2022  |  23:58 WIB
Gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Minggu (19/12/2021). Bloomberg - Samuel Corum
Gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Minggu (19/12/2021). Bloomberg - Samuel Corum

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah eks petinggi The Fed meragukan dampak kenaikan suku bunga bank sentral dapat menghindarkan AS dari resesi tahun depan.

Kebijakan suku bunga rendah di kala pandemi sudah berjalan terlampau lama. Sehingga, kenaikan mendadak pada saat ini berpotensi menimbulkan dampak kelewat besar terhadap perekonomian, demikian menurut sebagian eks petinggi.

"Kemungkinan besar akan tetap terjadi resesi, menimbang intensitas inflasi dan tingkat penurunan pengangguran. Untuk mengembalikan dua hal itu ke titik ekuilibrium, mustahil The Fed mampu mengelola sambil menjaga terjadinya soft landing,' ujar eks petinggi regulator perbankan The Fed Randal Quarels dalam podcast Banking with Interest, yang rilis Selasa (3/5/2022).

Pernyataan Quarels tersebut sekaligus mempertegas ucapan Kepala Ekonom Goldman Sachs yang juga eks pimpinan The Fed New York pada 2009-2018 William Dudley.

Menurut Dudley, kemungkinan The Fed bisa memastikan terjadi soft landing sudah nyaris nol.

"Karena sejarah membuktikan bahwa setiap kali mereka [The Fed] berusaha menekan tingkat pengangguran, kita pasti terjebak resesi," kata Ddley, dikutip dari Wall Street Journal.

Sebagai konteks, The Fed dijadwalkan mengumumkan kebijakan suku bunga terbaru pada pertemuan FOMC yang berlangsung Kamis (5/5) dini hari waktu Indonesia.

Pelaku pasar memperkirakan akan terjadi kenaikan suku bunga 50 basis poin. Ekspektasi ini memang lebih rendah dari batasan 75 basis poin yang sebelumnya menimbulkan kekhawatiran.

Namun demikian, pelaku pasar belum terlihat menyambut langkah tersebut dengan positif. Salah satunya terlihat dari pergerakan sejumlah saham di Bursa AS di sektor-sektor agresif, yang cenderung terkoreksi pada awal pembukaan sesi perdagangan Rabu (4/5) pagi waktu setempat.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat Suku Bunga Kebijakan The Fed Resesi
Editor : Herdanang Ahmad Fauzan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top