Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lockdown dan Kenaikan Suku Bunga Cekik Obligasi Asia, Investor Rugi Triliunan Ribu Rupiah

Investor surat utang dolar di Asia merugi US$155 miliar sepanjang 9 bulan terakhir akibat lockdown di China
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 25 April 2022  |  18:12 WIB
Petugas kepolisian dengan alat pelindung diri (APD) berjaga di persimpangan jalan saat lockdown akibat Covid-19 di Shanghai, China, Senin (25/4/2022). - Bloomberg
Petugas kepolisian dengan alat pelindung diri (APD) berjaga di persimpangan jalan saat lockdown akibat Covid-19 di Shanghai, China, Senin (25/4/2022). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Investor surat utang dolar di Asia kehilangan US$155 miliar atau Rp2.232 triliun sepanjang 9 bulan terakhir akibat lockdown di China dan juga aksi jual pada aset pendapatan tetap secara global akibat kenaikan suku bunga.

Dilansir Bloomberg pada Senin (25/4/2022), acuan untuk surat utang pemerintah dan korporat turun 12,1 persen dari puncaknya pada Juli, menurut indeks Bloomberg.

Kondisi itu menjadi penurunan terdalam berdasarkan data pada 2009 dan menjadi bukti terbaru dari jatuhnya pasar pendapatan tetap global.

Hal ini juga terjadi setelah acuan pada surat utang berperingkat tinggi berdenominasi euro mencapai level terburuk pada pekan lalu.

Kemerosotan terus berlanjut pada Senin di mana spread kredit dolar berperingkat investasi Asia terpangkas setidaknya 5 basis poin.

Otoritas Beijing, kota dengan populasi lebih dari 20 juta orang bergerak cepat untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Hal ini meningkatkan kekhawatiran pada berlanjutnya pelemahan ekonomi China.

Surat utang offshore yuan bahkan jatuh ke level terendah sejak April 2021.

"Sejumlah investor berpikir apakah level saat ini merepresentasikan titik masuk [untuk obligasi Asia] yang menarik. Bagi kami, ketidakpastian ekonomi makro akan mendominasi," ujar analis kredit Goldman Sachs Group Inc., Kenneth Ho dan Chakki Ting dalam catatan.

Sementara itu, obligasi dolar dengan imbal hasil tinggi di China turun sebanyak 2 sen dibandingkan dengan dolar AS pada Senin.

Pasar obligasi telah terpukul di seluruh dunia karena investor memperkirakan laju kenaikan suku bunga yang lebih cepat oleh Federal Reserve.

Apalagi, Gubernur The Fed Jerome Powell dan pejabat lainnya mengungkapkan potensi yang besar untuk kenaikan 50 basis poin pada pertemuan Mei.

Investor berbalik kelebihan berat badan pada kredit Asia bulan ini karena kekhawatiran tentang arus keluar berkurang, menurut laporan baru-baru ini dari Bank of America Corp. Itu menunjukkan bahwa arusnya bisa berbalik.

Belum lama ini, Bank of America Corp. melaporkan bahwa investor akan beralih ke surat utang Asia karena kekhawatiran arus keluar telah menghilang. Hal itu menunjukkan bahwa arus bisa berbalik.

“Saya berpendapat bahwa kredit peringkat investasi jangka pendek sebenarnya sudah mulai terlihat menarik, dengan melihat di mana imbal hasil berada,” ujar Kepala Kredit Asia BlackRock Inc., Neeraj Seth.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china shanghai surat utang negara Covid-19
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top