Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Apcasi Sebut Harga Cangkang Sawit Tertinggi Sepanjang Sejarah

Sepanjang 2021 harga cangkang kelapa sawit berkisar US$95 sampai US$105  per ton free on board (FOB). Adapun tahun ini, diperkirakan naik dikisaran 118 dolar AS.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 29 Maret 2022  |  11:42 WIB
Cangkang sawit yang dianggap limbah kini menjadi salah satu komoditas ekspor.  - Antara.
Cangkang sawit yang dianggap limbah kini menjadi salah satu komoditas ekspor. - Antara.

Bisnis.com, JAKARTA- Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia (Apcasi) mengungkapkan produk cangkang kelapa sawit menjadi bahan bakar alternatif yang banyak diburu sektor industri di banyak negara.

Ketua Umum Apcasi Dikki Akhmar menuturkan sepanjang 2021 harga cangkang kelapa sawit berkisar US$95 sampai US$105  per ton free on board (FOB). Adapun tahun ini, diperkirakan naik dikisaran 118 dolar AS.

"Harga cangkang sawit tahun ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Harga indeks cangkang sawit mencapai 118 dolar AS," ujar Dikki, dikutip dari siaran pers, Senin (28/3/2022).

Menurutnya, kenaikan harga cangkang kelapa sawit dipicu dengan peningkatan penggunaan energi baru dan terbarukan (renewable energy) dalam program bauran energi di beberapa negara di dunia.

Dia memaparkan, harga cangkang sawit naik karena kebutuhan energi dunia semakin besar. Misalnya, kata dia, Jepang saat ini menjadi pangsa pasar terbesar cangkang sawit Indonesia dan diperkirakan akan terus menjadi pasar utama untuk komoditas tersebut.

"Kebutuhan cangkang sawit sudah 3,5 juta ton. Tiap tahun kebutuhan Jepang sampai berjuta-juta ton, bahkan tahun 2022 diprediksi sampai 6,2 ton," ujarnya.

Dikki mengatakan permintaan besar-besaran tersebut disebabkan karena kebijakan energi Jepang yang menetapkan 24 persen pemenuhan energi pada 2030 harus berasal dari energi baru dan terbarukan.

"Ya karena setiap tahun makin banyak membangun power plan yang berbasis bio energi, biomassa dan 70-100 persen bahan bakunya menggunakan cangkang sawit," kata dia.

Selain Jepang, pasar eskpor cangkang sawit lainnya adalah Thailand, Taiwan, Korea Selatan, dan China. Bahkan, cangkang sawit Indonesia jadi rebutan oleh banyak negara karena kualitas yang baik. Sementara negara lain yang juga pengekspor cangkang sawit seperti Malaysia memiliki karakteristik yang tipis.

"Di Eropa sekarang lagi krisis biomassa. Selama ini mereka lebih banyak menggunakan wood pellet. Kemudian ada kebijakan 30 persen harus menggunakan cangkang sawit," terangnya.

Akan tetapi, karena biaya pengirimannya jauh lebih tinggi sehingga negara-negara di Eropa tidak membeli cangkang sawit dari Indonesia.

"Dia bawa cangkang dari Indonesia misalnya 35 ribu ton. Perjalanan menuju Eropa 40 hari. Maka dia juga harus mempertimbangkan logistic cost-nya juga," terangnya.

Dia menambahkan, meskipun permintaan pasar internasional terhadap limbah kelapa sawit cukup tinggi, tapi hingga kini Indonesia belum bisa mengekspor komoditas tersebut karena keterbatasan pasokan.

"Masih jauh sekali, ketersediaan produksi cangkang kita baru 2,5 juta ton per tahun. Peluang kita bisa ekspor sampai 3,5-4 juta ton," ujar dia.

Ada beberapa kendala yang membuat ekspor cangkang sawit belum meningkat, di antaranya adalah tidak menunjangnya infrastruktur jalan dan perizinan. Menurut Dikki, para petani selama ini kesulitan untuk menjangkau daerah pelosok perkebunan sawit.

"Risikonya tinggi juga. Ngambil cangkang di tengah kebun sawit, di pelosok. Beruntung kalau truknya nyampe, kadang-kadang terbalik di tengah jalan," terangnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak sawit
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top