Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kenaikan Harga Pangan Jauh Sebelum Lebaran, Asosiasi Pedagang: Tak Wajar

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menilai reli kenaikan harga kebutuhan pokok atau bapok pada awal tahun ini sangat tidak wajar.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 11 Maret 2022  |  18:07 WIB
Kenaikan Harga Pangan Jauh Sebelum Lebaran, Asosiasi Pedagang: Tak Wajar
Menjelang Natal dan pergantian tahun, harga bahan pokok di pasar tradisional di Balikpapan mulai naik. - Bisnis.com/Fariz Fadhillah

Bisnis.com, JAKARTA —Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan menilai reli kenaikan harga kebutuhan pokok atau bapok pada awal tahun ini tidak wajar lantaran terjadi 30 hari sebelum momen Ramadhan.

Konsekuensinya, pendapatan pedagang susut lebih awal karena mesti mengurangi volume jualan mereka di tengah gejolak harga pangan awal tahun ini.

“Ini kenaikan yang tidak wajar dikarenakan 30 hari menjelang Ramadhan harga-harga bergejolak,” kata Reynaldi melalui pesan WhatsApp, Jumat (11/3/2022).

Biasanya, kata Reynaldi, gejolak harga bapok baru kelihatan satu pekan sebelum Ramadhan. Kenaikan itu makin intens setelah memasuki momen tiga hari menjelang Idulfitri.

Saat itu permintaan bakal semakin tinggi terhadap komoditas pangan tersebut yang belakangan turut mengungkit harga di pasar. Selanjutnya, gejolak harga komoditas bakal kembali terlihat setelah satu pekan Idulfitri.

“Kami melihat memang beberapa daerah terutama Jawa Timur salah satu sentra produksi cabai rawit terbesar juga mengalami penurunan produksi ada berbagai faktor yang menghambat produksi salah satunya ialah musim hujan di daerah tersebut,” kata dia.

Dengan demikian, dia meminta pemerintah untuk segera mengintervensi kesenjangan produksi sejumlah komoditas pangan menjelang lebaran tahun ini. Dia khawatir reli kenaikan harga pangan itu bakal menggerus pendapatan pedagang saat lebaran nanti.

“Tentu berbagai upaya harus dilakukan seperti menggenjot sentra-sentra produksi selain di wilayah Jawa Timur, ada Jawa Tengah kemudian juga ada Jawa Barat dan juga Aceh yang menjadi sentra produksi cabai,” kata dia.

Berdasarkan data Kemendag per Kamis (10/3/2022), harga bawang merah sudah di angka Rp37.000 per kilogram atau naik 13,85 persen secara bulanan. Kenaikan harga bawang merah disebabkan karena turunnya produktivitas bawang merah mencapai 50 persen menjadi 4 ton per hektar di sebagian besar sentra produksi seperti Brebes, Bima, Solok, Nganjuk, dan Probolinggo.

Selain itu, harga cabai juga masih mengalami kenaikan yang signifikan sejak akhir tahun lalu seiring dengan cuaca buruk di sejumlah sentra produksi. Berdasarkan laporan asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), kenaikan harga cabai disinyalir akibat tertundanya masa pemetikan oleh petani selama musim penghujan sejak akhir tahun lalu.

Konsekuensinya, harga cabai merah keriting hingga pekan ini sudah menembus angka Rp37.000 per kilogram atau naik 13,85 persen secara bulanan, cabai merah besar naik 37,18 persen menjadi Rp48.700 per kilogram dan cabai rawit merah naik 36,27 persen menjadi Rp69.500 per kilogram.

Adapun, pedagang belakangan menurunkan stok jualan mereka nyaris 50 persen dari jumlah jualan sebesar 25 kilogram saat harga bertengger Rp53.000 selama dua bulan terakhir.

“Untuk saat ini hanya setengah saja yang mereka stok karena harga tinggi sementara permintaan tidak ada, kalau masyarakat ada beli paling hanya seperempat saja, akan dibeli ecer begitu karena permintaan dan pasokan yang sedang tidak seimbang,” kata Reynaldi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga pangan idul fitri harga bahan pokok
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top