Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Adu Mekanik Pertalite, Shell dan BBM RON 90, Mana Lebih Kompetitif?

Perusahaan yang menjual bahan bakar minyak melakukan penyesuaian terhadap harga jual BBM di masyarakat setelah Rusia melakukan invasi ke Ukraina.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 09 Maret 2022  |  06:54 WIB
Adu Mekanik Pertalite, Shell dan BBM RON 90, Mana Lebih Kompetitif?
Pengendara mengisi bahan bakar di SPBU, di Jakarta, Senin (9/4/2018). - JIBI/Dwi Prasetya
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah badan usaha penjualan bahan bakar minyak melakukan penyesuaian terhadap harga jual BBM di masyarakat. Langkah ini dilakukan menyusul lonjakan harga komoditas termasuk minyak mentah di pasar internasional.

Penguatan harga ini terjadi setelah Rusia melakukan invasi ke Ukraina sejak 24 Februari 2022. Akibatnya, komoditas energi terkerek setelah munculnya kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.

PT Pertamina (Persero) diketahui menjual harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dengan real octane number (RON) 90 seharga Rp7.650 hingga Rp8.000 per liter. Kemudian, harga BP 90 yang dijual di SPBU BP-AKR sebesar Rp11.990 per liter. Sebaliknya jenis Revvo 90, produk BBM yang dijual Vivo, yaitu Rp8.900 per liter.

Sementara itu, Shell diketahui tidak lagi menjual Shell Regular yang memiliki RON 90 sejak Januari 2022. SPBU asal Belanda itu hanya memasarkan Shell Super (RON 92) hingga Shell V-Power Nitro + (RON 98).

Dari empat badan usaha tersebut dengan RON setara, Pertalite menjadi bahan bakar minyak paling kompetitif di kelasnya. Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto meminta harga jual Pertalite dipertahankan, kendati harga minyak dunia terus naik

“Kita harus menjaga harga Pertalite ini stabil karena mayoritas pengguna kendaraan adalah BBM jenis ini,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (8/2/2022).

Menurut kenaikan harga bahan bakar minyak dapat memicu inflasi dan membuat daya beli masyarakat yang sudah lemah karena pandemi akan semakin lemah. “Penerimaan dari ekspor batu bara, CPO, tembaga, nikel dan lain-lain, semoga cukup untuk menahan kenaikan dari impor BBM tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi III Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Montty Girianna, dalam diskusi virtual beberapa waktu lalu, menyebutkan harga Pertalite dalam waktu lima hingga enam bulan tidak akan naik kendati harga jual Pertalite saat ini lebih rendah jika dibandingkan nilai keekonomiannya.

Kebijakan menahan harga jual Pertalite dinilai merupakan upaya pemerintah dan Pertamina dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang masih tertekan akibat kenaikan harga-harga dan kelangkaan beberapa komoditas kebutuhan pokok.

Sebelumnya, pada awal Maret 2022, harga sejumlah jenis BBM yang dijual di SPBU Pertamina yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami penyesuaian. Namun, Pertalite dan Pertamax masih tetap, yaitu masing-masing Rp 7.650 per liter dan Rp9.000 per liter.

Hingga Januari 2022, porsi konsumsi Pertalite sekitar 52 persen dari total konsumsi BBM nasional. Sebaliknya, porsi BBM lainnya yakni Pertamax Series dan Dex Series sekitar 13 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga BBM pertamina Pertalite Perang Rusia Ukraina
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top