Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Gandum Tembus US$335 per Ton Maret 2022, Aptindo Pastikan Tidak Ada Gejolak Harga Domestik

Pada awal tahun ini, IGC Market Indicator melaporkan perang Rusia-Ukraina yang belakangan menimbulkan ketegangan di Laut Hitam turut menjadi faktor kenaikan harga gandum di pasar dunia.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 06 Maret 2022  |  15:43 WIB
Ilustrasi ladang gandum.
Ilustrasi ladang gandum.

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) memastikan pasokan gandum untuk kebutuhan industri dan konsumsi dalam negeri bakal tetap terjaga di tengah sentimen perang Rusia-Ukraina yang masih berlanjut.

Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sari Loppies mengatakan pengusaha tengah berkomunikasi dengan mitra produsen gandum selain Ukraina dan Rusia untuk memastikan pasokan di dalam negeri aman.

“Soal terhambatnya pasokan dari Ukraina saya kira kita tidak perlu khawatir karena stok dari produsen lain masih banyak,” kata Ratna melalui sambungan telepon, Minggu (6/3/2022).

Sementara itu, International Grains Council (IGC) Market Indicator melaporkan harga gandum di pasar dunia sudah mencapai US$335 per ton pada Maret 2022 atau mengalami kenaikan sebesar 46 persen jika dibandingkan dengan posisi tahun lalu di angka US$229 per ton.

Pada awal tahun ini, IGC Market Indicator melaporkan perang Rusia-Ukraina yang belakangan menimbulkan ketegangan di Laut Hitam turut menjadi faktor kenaikan harga gandum di pasar dunia. Ketegangan di Laut Hitam itu mengungkit sub-indeks gandum sebesar 12 persen w/w hampir mendekati puncaknya selama 14 tahun terakhir.

“Kita sudah menaikan harga [pada awal tahun], tetapi kita sudah komunikasikan dengan konsumen sehingga tidak ada gejolak seperti tahu dan tempe, kita beritahu konsumen khususnya UKM yang jadi binaan kita,” kata dia.

Kendati demikian, dia memastikan, anggotanya belum berencana untuk menaikan harga jual tepung terigu kembali kepada konsumen seiring dengan penyesuaian harga pokok produksi atau HPP pada impor bahan baku akibat perang Rusia-Ukraina.

“Belum ada rencana penyesuaian lagi dari anggota, saya belum dengar. Sekarang juga di dunia internasional juga tidak terlalu bagaiamana begitu,” kata dia.

Berdasarkan data milik Aptindo, kebutuhan tepung terigu nasional setiap tahunnya mengalami kenaikan yang cukup besar. Tren itu diikuti dengan torehan positif pada kinerja ekspor industri makanan olahan berbahan baku gandum tersebut.

Pada 2021 kebutuhan tepung terigu nasional mencapai 6,96 juta setara 8,9 juta ton gandum atau mengalami pertumbuhan mencapai 4,6 persen jika dibandingkan dengan catatan 2020. Saat itu, kebutuhan tepung terigu nasional sebesar 6,6 juta ton atau setara 8,6 juta ton.

Sementara itu, total ekspor sepanjang 2021 tepung terigu dan olahannya mencapai US$1,19 miliar atau tumbuh 3,2 persen jika dibandingkan dengan torehan 2020 sebesar US$1,16 miliar. Adapun capaian ekspor 2021 itu dihasilkan dari ekspor tepung terigu mencapai US$24,3 juta mengalami pertumbuhan 5 persen, berdasarkan produk mencapai US$134,1 juta tumbuh 58,1 persen dan produk turunan terigu sebesar US$1,03 miliar tumbuh 2,3 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gandum Rusia tepung terigu Perang Rusia Ukraina
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top