Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Per Mei 2022, Pengusaha Bakal Naikkan Harga Jual Makanan Olahan Gandum

Menurut Gapmmi, penyesuaian HPP itu menyusul ketersediaan gandum nasional yang ditaksir sebanyak 2 juta ton bakal habis pada April mendatang.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 06 Maret 2022  |  12:54 WIB
Gandum dan tepung terigu.  - Istimewa
Gandum dan tepung terigu. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) bakal menyesuaikan kembali harga pokok produksi atau HPP produk makanan olahan berbahan baku gandum pada Mei 2022.

Penyesuaian HPP itu menyusul ketersediaan gandum nasional yang ditaksir sebanyak 2 juta ton bakal habis pada April mendatang.

“Stok gandum dan terigu kita kira-kira dua bulan bisa bertahan dan habis sampai April. Berarti harus ada stok baru, kalau harga mahal ini memang akan berpengaruh pada harga pokok produksi,” kata Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman melalui sambungan telepon, Minggu (6/3/2022).

Kendati demikian, Adhi mengatakan, sebagian pengusaha makanan olahan gandum masih menunggu perkembangan harga dan pasokan gandum di tingkat internasional untuk memutuskan menaikkan kembali harga jual mereka. Rencana kenaikan harga itu dinilai relatif berat lantaran pelaku usaha sudah sempat menyesuaikan harga di tingkat konsumen pada Januari 2022.

Mengutip data Bloomberg Minggu (6/3/2022) pukul 12.25 WIB, harga gandum (CBOT) telah menembus US$1.209 untuk pengiriman Mei 2022. Harga gandum itu menjadi rekor tertinggi sejak 2008 yang sempat mencapai US$990 per bushel.

“Ini memang tinggi sekali, kita dari industri juga kebingungan karena ini cukup berat juga kalau terus berlangsung dalam waktu yang panjang,” kata dia.

Di sisi lain, dia menambahkan, pelaku usaha sudah menjajaki komunikasi dengan sejumlah negara produsen untuk menutupi terhentinya pasokan dari Ukraina sebagai salah satu negara tujuan impor gandum terbesar Indonesia. Menurut dia, pelaku usaha tengah mematangkan komitmen impor dari Australia untuk mengantisipasi reli kenaikan harga bahan baku tersebut.

Kementerian Perindustrian melaporkan kebutuhan gandum nasional untuk industri mencapai 11,1 juta ton sebagai bahan baku tepung terigu sebagai bahan makanan. Dari total kebutuhan gandum tersebut, sekitar 2,8 juta ton dipenuhi dari Ukraina atau 25,2 persen dari total kebutuhan dan dari Rusia sebesar 2.900 ton. Negara pemasok gandum lainnya ke Indonesia di antaranya Australia sebesar 4,6 juta ton, Kanada 1,9 juta ton, Argentina 606 ribu ton, Amerika 447 ribu ton, dan India 318 ribu ton.

“Laporan dari Australia mereka masih bisa untuk memasok masih ada stok cuma berapa besar ini sedang dalam pembicaraan kalaupun iya, cukup berat ya untuk menambah karena kita impor dari Australia itu sudah 40 persen Ukraina 25,2 persen, agak berat jika tidak ditopang Ukraina,” kata dia.

Berdasarkan data Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), produksi gandum 2020 mencapai 760 juta ton yang disuplai lebih dari 100 negara.

Sepuluh negara terbesar penghasil gandum sebagai berikut:

1. China (134 juta ton)

2. India (107 juta ton)

3. Russia (85 juta ton)

4. Amerika Serikat (49 juta ton)

5. Kanada (35 juta ton)

6. Prancis ( 30 juta ton)

7. Pakistan (25 juta ton)

8. Ukraina (24 juta ton)

9. German (22 juta ton)

10.Turkey (20 juta ton)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gandum gapmmi
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top