Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Tanda Tanya Pendapatan Per Kapita hingga Retorika Akses Internet RI

Berkah lonjakan harga komoditas ikut mengerek naik pendapatan per kapita tahun lalu, tetapi sekaligus membuat pemulihan tidak berkelanjutan .Topik itu menjadi salah satu pilihan editor Bisnisindonesia.id hari ini.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 15 Februari 2022  |  12:54 WIB
Warga memperlihatkan uang lembar pecahan Rp75.000 usai melakukan penukaran di Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPw BI) Jawa Barat, Bandung, Jawa Barat, Selasa (18/8/2020). Bisnis - Rachman
Warga memperlihatkan uang lembar pecahan Rp75.000 usai melakukan penukaran di Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPw BI) Jawa Barat, Bandung, Jawa Barat, Selasa (18/8/2020). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Pendapatan per kapita di Indonesia kembali naik tahun lalu melewati US$4.000 per tahun, menerbitkan lagi harapan negara ini bisa keluar dari jebakan negara menengah alias middle income trap. Namun, peningkatan yang sebagian ditopang oleh ‘faktor sementara’ kenaikan harga komoditas itu meninggalkan pertanyaan tentang kesinambungan perbaikan pendapatan.

Kabar tentang masa depan pendapatan per kapita menjadi salah satu berita pilihan editor Bisnisindonesia.id. Beragam kabar ekonomi dan bisnis lainnya yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji di meja redaksi Bisnisindonesia.id.

Berikut ini intisari setiap berita pilihan:

  1. Tersulut Kebijakan Indonesia, Harga Batu Bara Terus Meroket

Sejumlah kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia disinyalir ikut memengaruhi perkembangan harga batu bara di pasar global. Sebagai salah satu produsen utama batu bara, Indonesia sempat membuat negara lain menjadi resah dan gelisah karena menyetop ekspor emas hitam itu secara tiba-tiba pada awal Januari 2022.

Bursa ICE Newcastle mencatat harga batu bara kontrak Februari mengalami penguatan 5,90 poin menjadi US$245 per metrik ton pada Minggu (13/2/2022), naik dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya seharga US$239,10 per metrik ton. Peningkatan juga terjadi untuk kontrak Maret dan April.

Di Tanah Air, Kementerian ESDM menetapkan harga batubara acuan (HBA) mencapai US$188,38 per metrik ton pada Februari 2022, melonjak US$29,88 per metrik ton dibandingkan dengan Januari yaitu US$158,50 per ton.

Bagaimana pun, Indonesia menjadi negara dengan produksi batu bara termal terbesar di dunia. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengatakan sentimen penguatan harga sebagian didorong oleh pembeli yang mempercepat pengiriman saat pasokan masih ketat sebagai dampak dari larangan ekspor Indonesia.

  1. Pendapatan Per Kapita Naik, Orang Tambah Kaya. Seberapa Lama?

Pendapatan per kapita Indonesia pada 2021 kembali naik melampaui US$4.000 per tahun, menerbitkan harapan untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah alias middle income trap yang sudah hampir dua dekade. 

PDB per kapita pada 2021 naik menjadi US$4.349,5 per tahun, menurut data BPS. Artinya, setiap penduduk yang tinggal di Indonesia rata-rata berpendapatan Rp62,2 juta per tahun. 

Nilai itu lebih tinggi dari pendapatan per kapita 2020 yang merosot ke US$3.934,5 (Rp57,3 juta) akibat pandemi Covid-19. Akibat penurunan itu, Indonesia yang sudah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah-tinggi (upper-middle income) pada 2019, merosot lagi menjadi lower-middle income

Kini, dengan kenaikan PDB per kapita, ada asa untuk naik mengejar status high income meskipun faktor sementara supersiklus komoditas menyurutkan harapan.

  1. Kinerja 'Si Bongkok' Vaname Digenjot demi Dominasi Pasar Global

Sejak lama, udang merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor perikanan Indonesia. Bahkan hingga saat ini, udang vaname masih menjadi primadona ekspor produk perikanan karena permintaan yang tinggi di pasar internasional. 

Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan Indonesia mampu memproduksi udang vaname hingga 2 juta ton pada 2024, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. 

Salah satu upaya konkret untuk mengejar target tersebut adaah dengan memperluas areal pertambakan baru yang terintegrasi dan dikelola secara modern. Saat ini KKP mengidentifikasi sebanyak lima lokasi calon lahan tambak udang terintegrasi di lima lokasi.

Ke lima lokasi yang telah diidentifikasi sejak tahun 2021 tersebut adalah Kabupaten Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), Kabupaten Muna (Sulawesi Tenggara), Kabupaten Aceh Timur (Aceh), Kabupaten Kotabaru (Kalimantan Selatan), dan Kabupaten Konawe Selatan (Sultra).

Panen udang vaname di tambak busmetik, Tegal, Jateng, Selasa (13/1/2015)./Antara

  1. Ramai Maskapai Terjun ke LCC, Operator di Tepi Perang Tarif?

Makin banyak pemain penerbangan berbiaya murah alias low cost carrier dapat menimbulkan risiko perang tarif karena kompetisi memperebutkan penumpang yang kian ketat.

Super Air Jet, maskapai yang terafiliasi dengan Rusdi Kirana, pendiri Lion Air Group, telah mengudara perdana pada awal paruh kedua tahun lalu.

Sebentar lagi, segmen LCC akan makin diramaikan oleh kehadiran TransNusa. Maskapai itu dulu malang-melintang di langit kawasan timur Indonesia, terutama Nusa Tenggara Timur, sebelum berhenti beroperasi September 2020 akibat pandemi Covid-19. Menurut Kementerian Perhubungan, maskapai ini sedang memproses pengajuan SOP pelayanan LCC.

Strategi ini dapat dipahami sebagai cara bertahan maskapai di tengah pandemi. Kendati semua segmen mengalami penurunan drastis jumlah penumpang, daya tahan LCC lebih baik dari full service maupun medium service. Namun, kekhawatiran bahwa kompetisi yang makin ramai akan memicu maskapai berlomba-lomba membanderol tarif mendekati batas bawah, tak bisa disembunyikan.

  1. Kala 'Jalan Tol' Akses Internet RI Sebatas Retorika

Infrastruktur akses internet di Indonesia akhir-akhir ini menjadi sorotan. Terlebih, saat gelaran hajatan kolosal MotoGP Mandalika 2022, terganggunya akses internet membuat aktivitas wawancara daring oleh sejumlah jurnalis internasional tidak lancar. Kondisi ini pun sontak menjadi trending buah bibir di media sosial. 

Kalangan jurnalis asing menganggap jaringan internet di kawasan MotoGP Mandalika 2022 buruk. Padahal, mereka saat itu mewawancarai sejumlah pembalap MotoGP yang telah berada di Mandalika. Saat salah satu pembalap yang diwawancara ketika itu adalah Marc Marquez dari Repsol Honda.

Buruknya akses internet di Indonesia rupanya sejurus dengan laporan yang dirilis Speedtest.net. Rerata kecepatan internet bergerak (mobile broadband) di Indonesia pada 2021 mengalami penurunan dibandingkan dengan pantauan pada 2020. Dengan kondisi tersebut, menjadikan Indonesia sebagai negara paling lemot dalam hal rata-rata kecepatan internet di Asia Tenggara.

Berdasarkan laporan yang dirilis Kamis, (11/2/2021), rata-rata kecepatan unduh dan unggah layanan internet bergerak di Indonesia pada 2020 hanya mencapai 17,26 Mbps dan 11,44 Mbps.

Selamat membaca!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tiket pesawat pendapatan per kapita harga batu bara jaringan internet ekspor udang
Editor : Sri Mas Sari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top