Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tekan Impor Baja, Kemenperin: Indonesia Butuh 5 Blast Furnace

Satu fasilitas blast furnace telah dimiliki Krakatau Steel (KRAS), namun hingga kini mati suri lantaran mengalami kerugian.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 14 Februari 2022  |  15:43 WIB
Tekan Impor Baja, Kemenperin: Indonesia Butuh 5 Blast Furnace
Presiden Joko Widodo menandatangani baja produk terbaru saat meresmikan pabrik Hot Strip Mill 2 PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Kota Cilegon, Banten, Selasa (21/9/2021). Pabrik ini memiliki kapasitas produksi hot rolled coil (HRC) sebesar 1,5 juta ton per tahun dan merupakan pabrik pertama di Indonesia yang mampu menghasilkan HRC kualitas premium./ANTARA FOTO - Biro Pers Media Setpres/Agus Suparto
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menekan arus impor baja bukan perkara mudah, terutama pada struktur industri yang belum kuat seperti di Indonesia.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier mengatakan Indonesia setidaknya butuh lima fasilitas blast furnace untuk menekan impor bahan baku baja.

Blast furnace merupakan proses metalurgi untuk mereduksi bijih besi atau iron ore dan mengubahnya menjadi logam besi cair bersuhu tinggi dengan sarana tungku pelebur.

PT Krakatau Steel Tbk. (KRAS) memiliki satu fasilitas blast furnace yang digodok pembangunannya sejak 2008, tetapi kini mangkrak diduga karena inefisiensi produksi.

"Kalau lihat dari kalkulasi, kita butuh lima blast furnace dengan kapasitas 1,2 juta ton. Kalau itu ada, otomatis kita akan menurunkan impor," kata Taufiek dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Senin (14/2/2022).

Pengembangan fasilitas tersebut, lanjutnya, tentu membutuhkan investasi yang tidak kecil. Dia juga menjelaskan, di industri hulu baja Krakatau Steel memiliki pabrik Hot Strip Mill (HSM) 1 dengan kapasitas produksi hot rolled coil (HRC) sebesar 2,4 juta ton per tahun. KRAS memiliki kapasitas produksi cold rolled coil (CRC) sebesar 800 ribu ton per tahun, dan Baja Lapis Aluminium Seng (BjLAS) 500 ribu ton per tahun.

Adapun, pabrik HSM 2 yang dioperasikan tahun lalu memiliki kapasitas 1,5 juta ton per tahun. KRAS juga menggandeng Pohang Steel and Iron Company (Posco) untuk merealisasikan investasi baru tahun ini senilai total US$3,7 miliar untuk membangun klaster baja 10 juta ton per tahun.

Sementara itu, PT Krakatau Posco, perusahaan patungan KRAS dengan Posco memiliki fasilitas cold rolling mill (CRM) untuk produksi CRCR dengan kapasitas sekitar 2,4 juta ton per tahun.

Taufiek mengatakan, Krakatau Posco berencana membangun fasilitas blast furnace yang akan dimulai pada 2024 dan diperkirakan selesai pada 2026.

"Kalau misalnya Posco punya plan untuk bangun blast furnace, statusnya setengah penanaman modal asing. Kalau untuk kebutuhan bahan baku, dihidupkan saja [blast furnace milik Krakatau Steel]. Tetapi kalau dihidupkan, rugi, ini juga dilema," jelas Taufiek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

baja krakatau steel kemenperin IMPOR BAJA PADUAN
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top