Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sempat Lesu, Kinerja Sektor Perkantoran Terbantu dengan Sistem Kerja Hybrid

Knight Frank Indonesia menyatakan prospek industri perkantoran masih cukup positif berkat adanya tren bekerja hybrid dan tidak bisa bekerja dari rumah.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 13 Februari 2022  |  11:29 WIB
Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (8/6/2020). Pekan kedua masa pembatasan sosial berskala berskala besar (PSBB) transisi, Pemprov DKI Jakarta mulai memperbolehkan karyawan di perkantoran kembali bekerja dengan kapasitas karyawan hanya dibolehkan sebanyak 50 persen dari jumlah karyawan dalam satu ruangan. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaj
Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (8/6/2020). Pekan kedua masa pembatasan sosial berskala berskala besar (PSBB) transisi, Pemprov DKI Jakarta mulai memperbolehkan karyawan di perkantoran kembali bekerja dengan kapasitas karyawan hanya dibolehkan sebanyak 50 persen dari jumlah karyawan dalam satu ruangan. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaj

Bisnis.com, JAKARTA – Sektor perkantoran diperkirakan masih memiliki prospek positif meskipun penuh tantangan di tengah pandemi Covid-19 yang masih terjadi.

Associate Director Commercial Department Knight Frank Indonesia Andi Rina Martianti berpendapat dari kuartal IV/2021 sudah ada pergerakan beberapa perusahaan luar yang berencana memiliki kantor representatif di Jakarta. 

"Ini memang sudah terlihat ada pergerakan. Tapi karena ada kasus Omicron yang tinggi sekarang terlebih perkantoran ini 25 persen kapasitas untuk bekerja ke kantor," ujarnya dikutip dalam laporan, Minggu (13/2/2022)

Dia menilai ke depannya masih ada harapan untuk sektor perkantoran dimana terdapat bisnis lain yang yang masih bekerja hybrid dan tidak bisa bekerja dari rumah.

"Kecuali bisnis lain bisa melakukan pekerjaan dimana saja dan bekerja di rumah. Kita memang tidak bisa tanpa sosialiasi dan kolaborasi dan itu dapat dilakukan di kantor," katanya.

Senior Advisor Research Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengatakan kondisi perkantoran di Jakarta masih memiliki tantangan.

Sejumlah tantangan yang dimaksud mulai dari penurunan ukuran sewa ruang, terhambatnya ekspansi ruang kantor dari calon penyewa, hingga adanya pasokan baru yang memasuki pasar di tengah pandemi.

Secara umum, total pasokan relatif stagnan. Pada semester II/ 2021 tidak ada penambahan gedung sehingga terdapat 7.068.941 meter persegi ruang perkantoran di CBD Jakarta setelah dua gedung perkantoran masuk per semester I/2021.

"Jadi overall 2021 hanya ada dua building perkantoran masuk pasar untuk menambah pasokan perkantoran CBD Jakarta," ucapnya.

Tingkat hunian perkantoran saat ini berada di level 71,8 peren dengan koridor Thamrin menjadi tingkat hunian tertinggi. Lalu, harga perkantoran stagnan dan cenderung melemah dimana Premium Grade A sebesar Rp412.116, Grade A Rp335.843, Grade B Rp269.535, dan Grade C Rp199.051.

"Kalau bicara harga dengan kondiri tingkat hunian yang terkoreksi tentu saja refleksinya harga cenderung mengalami pelemahan di semua kelas ruang perkantoran, namun di tengah proses melemah tingkat hunian kita masih melihat ada beberapa sektor yang agresif untuk sektor yang menyerap pasar yaitu dari farmasi, IT, fintech, telekomunikasi, FNCG dan konstruksi," tuturnya.

Syariah menuturkan tercatat ada 389.100 per meter persegi ruang kantor yang menunda memasuki pasar sampai waktu yang belum pasti. Kendati demikian, pada tahun ini bakal ada lima proyek baru sejumlah 407.647 meter persegi yang memasuki pasar. Setelah 2022, belum ada proyek baru yang akan memasuki pasar perkantoran di CBD Jakarta.

"Setelah tahun 2022 tidak ada building yang akan masuk di 2023 - 2024 dan seterusnya belum ada sejauh ini," ucapnya.

Dia menambahkan beberapa proyek dari berbagai kelas telah memberlakukan harga normal (pra pandemi). Meski demikian, 8 persen proyek justru kembali menurunkan harga sewa dari periode lalu.

"Pola kerja hybrid diperkirakan akan tetap menjadi alternatif sehingga permintaan ruang perkantoran tetap tertekan di tahun 2022," kata Syarifah.

Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip menyebutkan bahwa ruang kantor tetap diperlukan meski berlanjutnya sistem WFH dengan pola hybrid.

"Kebutuhan ruang kantor tetap diperlukan sebagai sarana kolaborasi antar pegawai untuk memompa semangat produktivitas, namun desain yang lebih fleksibel dengan sirkulasi yang lapang menjadi tren saat ini," terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti perkantoran gedung perkantoran omicron
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top