Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Kedelai Impor Naik, Siap-siap Tahu Tempe Naik

Harga tempe dan tahu berpotensi mengalami kenaikan akibat harga kedelai impor yang melambung.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 12 Februari 2022  |  20:11 WIB
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor yang kini harganya naik dari Rp9.600 menjadi Rp10.300 per kilogram di sentra perajin tempe di Sanan, Malang, Jawa Timur, Selasa (11/1/2022). ANTARA FOTO - Ari Bowo Sucipto
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor yang kini harganya naik dari Rp9.600 menjadi Rp10.300 per kilogram di sentra perajin tempe di Sanan, Malang, Jawa Timur, Selasa (11/1/2022). ANTARA FOTO - Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tempe dan tahu berpotensi mengalami kenaikan akibat harga kedelai impor yang melambung.

Berdasarkan data Bloomberg, harga kedelai kini berada di level US$1.586 per bushel atau naik 0,62 persen.  Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ayep Zaki memperkirakan hal itu akan mempengaruhi harga tempe dan tahu.

Menurutnya risiko sebagai negara pengimpor kedelai, Indonesia akan terus bergantung dengan negara pengekspor. “Apabila terjadi perlambatan ekonomi di negara tersebut yang disebabkan berbagai hal, secara otomatis akan berdampak pula pada negara pengimpor," ungkap Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ayep Zaki dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (12/2/2022).

Ayep menanggapi pernyataan Kementerian Perdagangan melalui Ditjen Perdagangan Dalam Negeri dalam konferensi pers virtual, Jumat (11/2). Mereka menyatakan dalam beberapa bulan ke depan, harga tahu dan tempe diprediksi akan melambung tinggi. Kenaikan harga ini dipicu naiknya harga kedelai di Amerika.

Sebagai pelaku pertanian yang secara terus menerus menggeluti dunia pertanian sejak 2005 sampai sekarang, Ayep menegaskan urusan pangan sebaiknya secara maksimal Indonesia harus mampu memproduksi sendiri.

"Impor kedelai yang mencapai 80% lebih untuk kebutuhan nasional setiap tahunnya, membuat Indonesia menjadi sangat tergantung dengan negara pengekspor. Itu sebabnya budidaya kedelai harus mendapat dukungan dari semua pihak, mulai dari off tacker (penjamin), pemerintah, dunia perbankan hingga petani," urai Ayep.

Ayep optimis atas dasar hasil penelitian dan pengalamannya. Ia menuturkan sudah melakukan uji coba langsung di lahan setelah panen padi, baik di musim tanam ke dua atau ke tiga. Sistem tanpa olah tanah (TOT) budidaya kedelai bisa menghasilkan 1,7-1,8 ton per hektare. Dengan asumsi biaya per hektarenya berkisar Rp8 juta.

"Ini sudah saya lakukan di beberapa tempat. Jika rata-rata per hektare mencapai 1,8 ton dan harga per kilonya Rp10.000, hasilnya bisa mencapai 18 juta per hektare," jelas Ayep.

Meski sudah melahukan uji coba, hasil produksi petani tersebut masih harus dipilah untuk memisahkan kedelai berukuran besar, sedang, dan kecil. Pemilahan tersebut dapat memakan hingga 15 persen hasil produksi. Tujuan pemilahan tersebut karena hanya kedelai berukuran besar saja yang bisa diterima pasar.

Dalam mewujudkan cita-cita ini, pihaknya menjalin kerja sama dengan Direktorat Akabi (Aneka Kacang dan Umbi) Kementerian Pertanian untuk program budidaya kedelai mandiri dengan sistem TOT seluas 25 ribu hektare di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

"Insya Allah April nanti kami akan melakukan penanaman perdana budidaya kedelai yang ditargetkan mencapai 1,8 ton per hektarenya," terang Ayep.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor umkm kedelai mui tempe
Editor : Pandu Gumilar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top