Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Catatan dari Pakar Soal Pembangunan IKN Nusantara

Sejumlah pihak yang berkaitan dengan infrastruktur bangunan mengingatkan beberapa hal kepada pemerintah seiring dengan rencana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 28 Januari 2022  |  08:38 WIB
Desain eksterior yang bakal menjadi Istana Kepresidenan di Ibu Kota Negara Nusantara di Kalimantan Timur, Selasa (4/1/2022). -  Antara @nyoman_nuarta\r\n\r\n
Desain eksterior yang bakal menjadi Istana Kepresidenan di Ibu Kota Negara Nusantara di Kalimantan Timur, Selasa (4/1/2022). - Antara @nyoman_nuarta\\r\\n\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah pihak yang berkaitan dengan infrastruktur bangunan mengingatkan beberapa hal kepada pemerintah seiring dengan rencana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Seperti diketahui, pemerintah sudah menyiapkan berbagai rancangan bangunan dan teknologi modern yang akan dihadirkan di IKN.

Kendati demikian, gambaran pemerintah terkait kota baru atau kota masa depan di IKN dinilai bukanlah yang identik dengan kemewahan dan kemegahan, tetapi kota yang sadar lingkungan dan hemat dari sisi energi.

Ketua Umum Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI) Sibarani Sofian mengatakan bahwa pembangunan IKN Nusantara harus memperhatikan tiga hal penting, yaitu biaya, waktu, dan kualitas.

Kalau saya boleh memilih, IKN ini sekali-kalinya seumur hidup membuat ibu kota baru. Jadi saya lebih cenderung memajukan kualitas, cari dana yang benar, dan waktunya harus lebih baik, serta masuk akal,” katanya dikutip dalam Youtube Ikatan Arsitek Indonesia, Kamis (27/1/2022).

Menurutnya, bagian terpenting dari kota modern adalah pembangunannya yang ramah lingkungan, sehingga membutuhkan tanggung jawab dan kesadaran masyarakatnya untuk merawat lingkungan.

Kami menerjemahkan cita-cita yang sifatnya terukur, contohnya net zero emission, dan 80–100 persen menggunakan energi alternatif atau energi terbarukan. Selain itu, IKN juga harus menjadi kota yang bisa dijangkau dalam 10–15 menit,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat yang tinggal di IKN nantinya harus siap melakukan diet penggunaan energi, sehingga tidak menghasilkan emisi karbon yang berlebihan.

Contohnya, kata dia, masyarakat harus menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya, dan hanya menggunakan pendingin ruangan jika dibutuhkan. Selain itu, sumber listrik juga perlu diatur dari panel surya atau tenaga air.

“Kita kurangi kebutuhan listriknya. Berani enggak tinggal di ibu kota, tapi enggak pakai AC? Lampunya harus LED semua, dan menggunakan energi alternatif. Kasarnya diet, diet resources, dan diet energi,” ucapnya.

Ketua Umum Green Building Council Indonesia Iwan Prijanto berharap, IKN bisa menjadi kota yang berkelanjutan. Akan tetapi, dia mengakui bahwa untuk mencapai kota yang berkelanjutan bukanlah perkara mudah, dan membutuhkan upaya sistemik.

Pasalnya, kota yang berkelanjutan membutuhkan sumber daya dan kemudian diolah sesuai dengan standar yang berlaku.

“Mulai dari mengelola lanskap, bangunan, rancang kotanya, dan policy dari perencanaan kotanya, serta aspek yang lain, seperti kesehatan itu harus dikelola secara sistemik,” terangnya.

Dia menjelaskan, Menurutnya, konsep kota masa depan sebenarnya mirip dengan kehidupan di Batavia era 1940-an atau Yogyakarta pada 1960–1970, di mana kedua kota yang memiliki ukuran relatif kecil itu mampu menjaga polusi dan dipenuhi sepeda, sehingga kualitas udaranya bagus, serta masyarakat bisa menjangkau seluruh sudut kota dengan mudah.

“Ukuran kota sustain itu net zero emission. Kalau enggak harus pakai AC, kenapa harus pakai? Kalau bisa ke warung pakai sepeda atau jalan kaki, kenapa harus pakai motor?,” ucapnya.

Meski begitu, dirinya tidak memungkiri bahwa kesadaran masyarakat Indonesia untuk merawat lingkungan masih cukup rendah.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia Hendricus Andy Simarmata berharap, pengembangan IKN tidak mengutamakan pembangunan di kawasan hutan.

Menurutnya, untuk membangun kota di atas kawasan hutan membutuhkan waktu, kehati-hatian, dan usaha extraordinary.

“Tidak ada yang tidak bisa kami rencanakan dan rancang, tetapi merencanakan kota di kawasan bekas hutan dengan yang bukan bekas hutan tentu berbeda. Size hingga sistem kotanya pasti berbeda,” jelasnya.

Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Georgius Budi Yulianto pun berharap agar IKN memiliki national building yang baik dan dikurasi secara tepat. Hal tersebut bertujuan agar hasilnya pembangunan IKN akan diingat sebagai hal luar biasa dan bisa diwariskan ke generasi selanjutnya.

“Seharusnya memang taat azas itu menjadi hal yang penting, karena mengacu pada siapa yang bertanggung jawab dengan desainnya,” ucapnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Ibu Kota Baru ibu kota negara
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top