Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IMF Desak Negara dengan Utang Dolar Segera Perpanjang Masa Jatuh Tempo

Pesan IMF kepada negara dengan utang berdenominasi dolar yang tinggi adalah bertindaklah sekarang, sebisa mungkin lakukan perpanjangan jatuh tempo utang.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 23 Januari 2022  |  19:40 WIB
Kantor pusat Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington D.C., AS -  Bloomberg / Andrew Harrer
Kantor pusat Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington D.C., AS - Bloomberg / Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) mendesak negara-negara dengan utang dolar yang besar agar segera memperpanjang masa jatuh temponya seiring dengan rencana kenaiakn suku bunga Federal Reserve.

Dilansir Bloomberg pada Jumat (21/1/2022), Managing Director IMF Kristalina Georgieva mengungkapkan kekhawatiran terbesarnya terhadap negara miskin karena 60 persen dari mereka tengah kesulitan utang.

Tahun ini semakin berat bagi pembuat kebijakan karena kesenjangan kondisi antar negara. Dia memperingatkan, tanpa bantuan dunia internasional, negara yang kesulitan ini akan mengalami masalah besar.

"Pesan kami kepada negara dengan utang berdenominasi dolar yang tinggi adalah bertindaklah sekarang. Jika anda dapat memperpanjang jatuh tempo, tolong lakukanlah. Jika mata uang anda jatuh, maka sekarang adalah waktu untuk mengatasinya," kata Managing Director IMF tersebut dalam panel virtual pada World Economic Forum (WEF).

Menurutnya, Covid-19 dapat menjerumuskan 100 juta orang rakyat kepada kemiskinan ekstrem dan membuat utang semakin tinggi, menurut Bank Dunia. Tantangan meningkat dengan menyebarnya varian omicron.

Sementara itu, Federal Reserve bersiap untuk menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun dengan inflasi AS tercepat dalam hampir empat dekade, didorong oleh permintaan konsumen dan gangguan rantai pasokan.

Panel menggarisbawahi tantangan berbeda yang dihadapi negara-negara selama dua tahun pandemi. Gubernur Bank Sentral Jepang Kuroda Haruhiko mengatakan bahwa Jepang harus melanjutkan kebijakan moneter yang longgar karena tidak seperti di ekonomi utama lainnya, inflasi masih sangat lambat.

Sementara itu, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengatakan bahwa ECB memiliki alasan untuk bertindak tidak agresif dibandingkan dengan The Fed karena memperkirakan inflasi di Eropa akan melambat mengikuti berkurangnya kemacetan rantai pasok.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sri mulyani imf restrukturisasi utang
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top