Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bebani Rakyat di Tengah Pandemi, CELIOS Minta Pemerintah & KAI Tunda Kenaikan Tarif KRL

Momentum pemerintah untuk menaikkan tarif KRL tidaklah tepat saat ini. Pasalnya, masyarakat telah terbebani dengan adanya kenaikan harga bahan pokok, belum lagi ada ancaman kenaikan tarif energi.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 13 Januari 2022  |  18:01 WIB
Sejumlah penumpang KRL Commuter Line tiba di Stasiun Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Senin (3/1/2022). ANTARA FOTO - Fauzan
Sejumlah penumpang KRL Commuter Line tiba di Stasiun Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Senin (3/1/2022). ANTARA FOTO - Fauzan

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom meminta pemerintah dan PT KAI (Persero) untuk menunda rencana untuk menaikkan tarif commuter line (KRL). Rencananya, pemerintah akan menaikkan KRL dari Rp3.000 menjadi Rp5.000 per April 2022.

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Law and Economic Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai bahwa momentum pemerintah untuk menaikkan tarif KRL tidaklah tepat saat ini.

Pasalnya, dia mengatakan, masyarakat telah terbebani dengan adanya kenaikan harga bahan pokok, belum lagi ada ancaman kenaikan tarif energi.

“Kalau disesuaikan dengan rata-rata kenaikan upah minimum 1 persen, justru kenaikan dari tarif KRL bisa berkontribusi terhadap berkurangnya upah riil dari para pekerja yang menggunakan jasa commuter,” katanya kepada Bisnis, Kamis (13/1/2022).

Di samping itu, kata Bhima, kenaikan tarif KRL juga akan mendorong inflasi pada sektor transportasi.

Dia mengusulkan agar pemerintah tetap memberikan subsidi ke KRL agar tidak terjadi penyesuaian tarif, sehingga tidak memberikan tekanan pada pekerja kelas menengah ke bawah.

“Ini artinya tidak pas untuk dilakukan di awal 2022, sebaiknya ditunda dulu sampai terjadi pemulihan konsumsi masyarakat”.

Dia menjelaskan, inflasi yang meningkat saat ini lebih didorong oleh inflasi dari sisi pasokan, artinya bukan karena adanya kenaikan permintaan secara agregat.

“Kalau permintaan secara agregat naik maka itu tanda ekonomi pulih, tapi kalau dari sisi pasokan, maka ini yang kita waspadai akan menambah beban, karena tarif KRL naik terjadi dari sisi pasokan,” tuturnya.

Dia menambahkan, pemerintah harus lebih kreatif mencari pendapatan untuk menutupi selisih harga tiket tersebut untuk menjaga tarif KRL tidak mengalami kenaikan

“Misalnya mendorong kerja sama lagi lebih banyak untuk layanan yang membutuhkan stasiun pemberhentian KRL atau kerja sama bisnis lainnya, atau lebih banyak menyediakan tempat persewaan makanan dan minuman di sekitar stasiun, jadi itu salah satu cara agar ada subsidi silang,” kata Bhima.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi commuter line krl
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top