Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Makanan Berharap Lebaran Tahun Ini Dongkrak Kinerja

Euforia Lebaran tahun ini diperkirakan akan melebihi kondisi sebelum pandemi karena aktivitas sosial dan konsumsi yang tertahan sebelumya.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 12 Januari 2022  |  15:01 WIB
Pekerja mengemas produk minuman kopi serbuk.  - Antara Foto/Aditya Pradana Putra
Pekerja mengemas produk minuman kopi serbuk. - Antara Foto/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) optimistis momentum lebaran tahun ini akan dapat memaksimalkan penjualan industri, setelah pada 2021 pengusaha masih tertekan pembatasan ketat.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman mengatakan hal itu terindikasi dari penanganan Covid-19 di dalam negeri yang semakin membaik, dengan catatan tidak ada gelombang baru pandemi.

"Perkiraan lebaran kali ini akan pulih seperti biasa, karena masyarakat sudah terlalu lama tidak bersilaturahmi sehingga kesempatan ini akan dimanfaatkan sebaik mungkin," ujar Adhi kepada Bisnis, Rabu (12/1/2022).

Bahkan, Adhi memperkirakan euforia Lebaran tahun ini akan melebihi kondisi sebelum pandemi karena aktivitas sosial dan konsumsi yang tertahan selama pandemi.  

Permintaan ritel, lanjutnya, sudah dimulai sejak Desember 2021 dan gairah pesananan dirasakan meningkat. Sedangkan pengiriman juga sudah dimulai pada bulan ini.

Sementara itu, tantangan utama persiapan momentum Lebaran tetap pada kendala logistik yang belum mereda meski ada perbaikan dibandingkan dengan tahun lalu. Hal itu menyebabkan pengusaha harus mengamankan stok lebih awal akibat biaya inventaris yang meningkat.

Tekanan lain yang diprediksi akan mempengaruhi pertumbuhan industri makanan dan minuman pada tahun ini yakni wacana kenaikan biaya energi dan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 11 persen mulai April 2022.

Kenaikan harga energi diprediksi akan menaikkan harga jual produk mamin antara 4 persen hingga 7 persen pada tahun ini.

"Memang sulit diprediksi, tapi kami sudah perhitungkan kenaikan energi untuk perkiraan pertumbuhan," ujarnya.

Gapmmi memproyeksikan industri akan tumbuh antara 5 persen hingga 7 persen pada 2022, di atas target ekspansi manufaktur sebesar 4,5 persen hingga 5 persen.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), industri mamin konsisten mencatatkan pertumbuhan pada tahun lalu di saat sektor lain mengalami kontraksi. Pada kuartal III/2021 pertumbuhan mamin tercatat 3,49 persen, setelah sebelumnya juga naik 2,95 persen pada kuartal II/2021 dan 2,45 persen pada kuartal I/2021.

Selain itu, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga mencatat investasi asing ke industri makanan pada Januari-September 2021 sebesar US$2.018 juta, meningkat dari periode yang sama 2020 sebesar US$1.147 juta.

Sementara itu, di luar teknis industri makanan dan minuman, Adhi juga melihat kepatuhan administrasi perpajakan akan menjadi sorotan. Seiring perbaikan sistem dan monitoring perpajakan, serta integrasi data yang semakin baik oleh pemerintah, pelaku usaha didorong untuk membenahi pembukuannya.

Menurut Adhi, hal itu akan berdampak jangka pendek terhadap kenaikan biaya pajak, terutama bagi pelaku yang tingkat kepatuhannya masih bermasalah.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur industri makanan dan minuman
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top