Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Rumah Bersubsidi Naik 7 Persen, Pengamat: Terlalu Tinggi

Rencana kenaikan harga rumah bersubsidi yang sebesar 7 persen pada tahun ini dinilai tak ideal. Kenaikan tersebut dinilai terlalu tinggi, karena rumah bersubsidi menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 11 Januari 2022  |  11:33 WIB
Foto udara perumahan bersubsidi di Griya Panorama Cimanggung, Parakan Muncang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu (8/3/2020) - ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Foto udara perumahan bersubsidi di Griya Panorama Cimanggung, Parakan Muncang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu (8/3/2020) - ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana kenaikan harga rumah bersubsidi yang sebesar 7 persen pada tahun ini dinilai tak ideal. Kenaikan tersebut dinilai terlalu tinggi, karena rumah bersubsidi menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit mengatakan bahwa kenaikan harga rumah bersubsidi yang sebesar 7 persen ini terlalu tinggi. Alasannya, daya beli MBR yang menjadi target pasar rumah bersubsidi masih terpukul di masa pandemi Covid-19.

Selain itu, kata dia, tingkat inflasi dan kenaikan harga bahan-bahan pokok sepanjang 2021 juga hanya sebesar 1,87 persen.

“Kalaupun ada kemungkinan kenaikan inflasi yang lebih tinggi pada tahun ini, namun diperkirakan tidak akan terlalu jauh. Paling sekitar 3 persen,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (11/1/2022).

Idealnya, kata dia, kenaikan harga rumah bersubsidi tahun ini berada di rentang 3–4 persen, karena kenaikan upah minimum yang hanya sekitar 3 persen di 2022.

“Ini diperlukan untuk memelihara stabilitas daya beli masyarakat, khususnya golongan MBR agar bisa menjangkau harga rumah,” katanya.

Menurutnya, kenaikan harga rumah bersubsidi yang wajar akan mempertahankan daya jangkau kelompok MBR untuk membeli rumah. Dengan begitu, permintaan rumah bersubsidi juga akan semakin terjamin.

“Sebaliknya, kenaikan harga yang terlalu tinggi atas rumah subsidi bisa memangkas daya beli MBR untuk menjangkau kebutuhan huniannya,” tutur Panangian. 

Sementara itu, Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Herry Trisaputra Zuna menuturkan, rencana kenaikan harga rumah subsidi tahun ini masih dalam proses pembahasan.

“Terkait batasan harga jual rumah di 2022 masih dalam proses. Jadi belum dapat kami infokan. Masih dalam proses,” ucapnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengatakan REI dan pemerintah sepakat harga rumah subsidi atau rumah sederhana akan naik pada tahun ini.

“Saat ini tengah dalam proses persetujuan Kementerian Keuangan untuk kenaikan harga rumah subsidi,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (10/1/2022).

Adapun kenaikan harga rumah subsidi di tahun ini akan sebesar 7 persen, karena harga rumah subsidi sudah 3 tahun tak mengalami kenaikan. Selain itu, saat ini harga bahan bangunan juga merangkak naik.

REI pun menjamin kualitas rumah subsidi tetap baik dan menggunakan bahan bermutu. “95 persen rumah bersubsidi ini menggunakan kredit dari perbankan, sehingga memang kualitasnya terjamin,” kata Totok.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga rumah rumah bersubsidi batas harga rumah bersubsidi
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top