Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Duh! Likuiditas China Cekak Jelang Imlek. Ini Sebabnya

Kebutuhan pada awal tahun ini 18 persen lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu, menurut perhitungan Bloomberg berdasarkan data resmi dan perkiraan analis.
Seorang pejalan kaki melewati depan Gedung People's Bank of China/ Bloomberg
Seorang pejalan kaki melewati depan Gedung People's Bank of China/ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Likuiditas yang ketat menyusul kebutuhan uang tunai menjelang tahun baru Imlek dan utang yang jatuh tempo akan menekan bank sentral China mencukupi permintaan senilai 4,5 triliun yuan atau setara US$708 miliar pada Januari.

Dilansir Bloomberg pada Selasa (4/1/2021), kebutuhan pada awal tahun ini 18 persen lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu, menurut perhitungan Bloomberg berdasarkan data resmi dan perkiraan analis.

Pendorong utamanya adalah meningkatnya jumlah pinjaman polis yang jatuh tempo dan permintaan uang tunai untuk dibelanjakan selama Imlek, musim belanja tersibuk di China.

Pemangkasan rasio cadangan wajib (reserve-requirement ratio/RRR) pada perbankan bisa menolong likuiditas, tetapi para analis meyakini Bank Rakyat China atau PBOC (bank sentral China) kemungkinan akan memberikan kembali pelonggaran untuk menghindari krisis likuiditas.

Cekaknya kas negara menambah rentetan masalah keuangan setelah kemorosotan sektor properti yang dipimpin oleh Evergrande Group yang default dalam pembayaran kuponnya. Ini diikuti dengan gelombang gagal bayar lainnya dari enam pengembang dalam kuartal terakhir tahun lalu.

"Pasar obligasi saat ini rentan setelah peningkatan leverage pada Desember, yang berarti lembaga keuangan akan lebih bergantung pada dukungan likuiditas PBOC," kata analis Cinda Securities Ltd., Yishuang Li.

Pada Selasa, PBOC mengurangi suntikan uang tunai jangka pendek menjadi 10 miliar yuan (US$1,57 miliar) dari 100 miliar yuan (US$15,73 miliar) di sesi sebelumnya. Langkah tersebut menyebabkan kekeringan likuiditas bersih sebesar 260 miliar yuan, terbesar sejak awal Oktober.

Sejumlah sertifikat deposito atau pinjaman bank jangka pendek senilai 1,2 triliun yuan (US$173,09 miliar) akan segera jatuh tempo pada Januari.

Selain itu, terdapat pula pinjaman polis jangka menengah senilai 500 miliar yuan dan 700 miliar yuan reverse repurchase agreement, transaksi beli efek dengan harga dan waktu penjualan kembali telah ditetapkan, yang mesti diselesaikan.

Senior Ahli Strategi China Australia & New Zealand Banking Group Ltd., (ANZ), Zhaopeng Xing mengatakan perhitungan itu belum termasuk 700 miliar yuan untuk menopang kebutuhan uang tunai yang digunakan sebagai hadiah dan perjalanan pada libur Imlek pada awal pekan Februari.

Sementara itu, sektor properti di China masih membutuhkan US$189 miliar untuk menutup obligasi dalam negeri yang jatuh tempo, produk investasi, dan pembayaran upah bagi jutaan pekerja migran.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Nindya Aldila
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper