Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BTN Targetkan Kredit Perumahan Tumbuh 10 Persen pada 2022

BTN optimistis kredit perumahan bisa tumbuh 10 persen pada 2022.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 23 Desember 2021  |  17:45 WIB
Suasana layanan di kantor PT Bank Tabungan Negara Tbk di Jakarta, Senin (8/1). - JIBI/Dedi Gunawan
Suasana layanan di kantor PT Bank Tabungan Negara Tbk di Jakarta, Senin (8/1). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk. optimistis penyaluran kredit perumahan pada tahun depan dapat tumbuh 10 persen.

Executive Vice President Nonsubsidized Mortgage & Personal Lending Division (NSLD) Bank BTN, Suryanti Agustinar mengatakan pihaknya optimistis pada 2022 menjadi momentum yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh perbankan untuk pertumbuhan kredit.

"Rencana bisnis penyaluran pembiayaan rumah tumbuh 10 persen. Per kuartal III tahun 2021 tumbuh 6 persen, ini diharapkan akhir tahun ini bisa tumbuh 7 persen hingga 8 persen," ujarnya dalam youtube Webinar Outlook Property Nasional 2022, Rabu (22/12/2021).

Keyakinan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 menunjukan tren yang sangat menjanjikan.

IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh di atas 5,9 persen meskipun masih di bawah India yang tumbuh sebesar 8,5 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini berada di atas rerata pertumbuhan ekonomi global yang berada di kisaran 4,9 persen.

"Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang positif merupakan sinyal bagi dunia usaha untuk kembangkan bisnis pada 2022. Inilah mengapa kami menargetkan pertumbuhan pembiayaan perumahan di tahun depan bisa capai 10 persen," katanya.

Suryanti menuturkan sektor perumahan masih memiliki ruang tumbuh yang besar karena mortgage to GDP ratio Indonesia yang rendah.

Mortgage Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia lebih rendah yakni 3,00 persen dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina yang 3,8 persen, Malaysia yang 38,4 persen dan Singapura yang mencapai 44,8 persen sehingga masih banyak potensi yang dikembangkan.

Selain itu, backlog rumah yang masih tinggi yakni mencapai 11,4 juta backlog rumah berdasarkan kepemilikan, sebanyak 7,6 juta backlog rumah berdasarkan keterhunian, dan keluarga yang menghuni rumah tidak layak ada 55,5 persen.

Pertumbuhan infrastruktur dan demografi yang tinggi dan pertumbuhan middle class berdampak pada permintaan rumah akan terus bertambah.

"Pembangunan infrastruktur yang masif dan lebih dari 1,8 juta orang melakukan pernikahan setiap tahun serta 77 juta jiwa proyeksi pertumbuhan kelas menengah di tahun 2025. Optismisme terhadap sektor perumahan diyakini masih akan terus tumbu mengingat masih tingginya kebutuhan rumah di Indonesia," ucapnya.

Suryanti mengungkapkan terdapat sejumlah tantang sektor perumahan di Indonesia. Dari sisi suplai, harga lahan yang semakin tinggi, dan harga rumah meningkat pesat khususnya untuk ruman non subsidi.

Jumlah pengembang pun masih terbatas dan babyak pengembang yang mengalami keterbatasan modal.

Dari sisi demand, keterjangkauan masyarakat terhadap unit rumah masih rendah dan banyak MBR dan di bawah MBR yang unbankable.

"Di sisi pembiayaan adanya keterbatasan pendanaan perbankan dan maturity missmatch antara jangka waktu pendanaan dengan pembiayaan," tuturnya.

Kendati demikian, permintaan perumahan tetap tumbuh. Adapun tren saat ini terhadap perumahan berfokus pada hunian ukuran kecil lebih besar dibandingkan rumah menengah dan besar.

Selain itu, peningkatan urbanisasi mempercepat demand rumah di kota besar. Pembangunan masif hunian di area pembangunan infrastruktur juga sangat diminati.

Adanya regulasi kepemilikan asing yang dilonggarkan berdampak pada permintaan properti.

"Tren ini akan terus berlanjut ke depan," katanya.

Suryanti menambahkan pertumbuhan pembiayaan perumahan pada 2022 sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang mempengaruhi kondisi perekonomian nasional antara lain pengendalian Covid-19 dan kebijakan pemerintah.

Keberlanjutan program kebijakan kemudahan untuk kepemilikan rumah yakni seperti LTV memicu tumbuhnya KPR secara nasilnal sepanjang pandemi. Perpanjangam berbagai program ini diyakini akan mampu mendorong tumbuhnya industri perumahan pada 2022.

"Selain itu, kepastian pemberian jumlah kuota dan anggaran subsidi perumahan dari pemerintah mempengaruhi pertumbuhan sektor perumahan 2022," ucap Suryanti.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

btn perumahan
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top