Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ada Target Zero Emission 2060, Industri Hulu Migas Masih Melaju

Industi hulu migas diklaim memiliki efek berganda atau multiplier effect hingga ke sektor-sektor pendukung.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 29 November 2021  |  09:48 WIB
Pekerja melakukan pengawasan di proyek Grati Pressure Lowering yang dilakukan oleh Ophir Indonesia (Sampang) Pty. Ltd., Jawa Timur. Istimewa / Dok. SKK Migas
Pekerja melakukan pengawasan di proyek Grati Pressure Lowering yang dilakukan oleh Ophir Indonesia (Sampang) Pty. Ltd., Jawa Timur. Istimewa / Dok. SKK Migas

Bisnis.com, BADUNG — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan bahwa industri hulu minyak dan gas atau migas tidak akan ditinggalkan meskipun Indonesia yang menargetkan net zero emission pada 2060.

Menurutnya, keberadaan industri hulu migas tetap memiliki peran penting dalam menopang perekonomian nasional.

"Industri hulu migas, tidak akan serta merta ditinggalkan karena industri ini juga menjadi salah satu pilar ekonomi Indonesia," katanya dalam acara International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas 2021 (IOG 2021), di Bali Nusa Dua Convention Center, Badung, Bali, Senin (29/11/2021).

Arifin juga menyampaikan industi hulu migas memiliki efek berganda atau multiplier effect hingga ke sektor-sektor pendukung.

"Kita melihat, penggunaan kapasitas nasional di sektor hulu migas cukup besar, baik dari sisi prosentase maupun nilainya. Sebagai contoh, pada tahun 2020 penggunaan kapasitas nasional sebesar 57 persen dengan nilai pengadaan sekitar US$2,54 Miliar," jelasnya.

Adpun, berdasarkan hasil studi Universitas Indonesia atas dampak kegiatan usaha hulu migas pada 2003 - 2017, efek berganda industri hulu migas terus meningkat.

Arifin mengatakan industri hulu migas yang pada mulanya didesain untuk menghasilkan manfaat berupa penerimaan negara secara maksimal, kemudian dikembangkan menjadi salah satu mesin penggerak kegiatan penunjangnya, seperti perbankan, perhotelan dan sebagainya.

Dalam perhitungan umum, katanya, setiap investasi sebesar US$1 menghasilkan dampak senilai US$1,6 yang dapat dinikmati oleh industri penunjangnya.

Menurut Arifin, selain memberikan dampak langsung, industri hulu migas, terutama gas, juga akan menjadi penyokong energi pada masa transisi.

“Selain untuk mendukung pertumbuhan permintaan energi, gas juga akan dikembangkan untuk menggantikan energi batubara yang lebih banyak menghasilkan carbon. Dengan posisinya tersebut, maka konsumsi gas di masa depan akan meningkat signifikan,” katanya.

Arifin melanjutkan Kementerian ESDM sejak tahun lalu berusaha memaksimalkan volume penyerapan gas di dalam negeri, antara lain melalui kebijakan harga khusus untuk sektor kelistrikan dan industri tertentu.

Menurutnya, kebijakan ini tentu akan mendorong penambahan konsumsi gas sehingga lapangan-lapangan migas tetap perlu dikembangkan untuk menjamin penyediaan energi di masa depan.

“Saya mengerti, proses ini tidak sederhana dan membutuhkan dukungan serta kerjasama semua pihak untuk merealisasikannya. Teknologi yang maju dan ramah lingkungan dibutuhkan untuk menjawab tantangan ini sehingga kekurangan energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di masa depan, dapat dikurangi,” jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hulu migas emisi karbon Transisi energi
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top