Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indef Ramal Pertumbuhan Ekonomi 2022 Sebesar 4,3 Persen

Ramalan pertumbuhan Indef lebih rendah dari proyeksi yang ditetapkan oleh pemerintah di angka 5 hingga 5,5 persen. 
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 24 November 2021  |  23:10 WIB
Ilustrasi - Sejumlah truk mengantre muatan peti kemas di Terminal Teluk Lamong, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (13/2/2020).  - Antara Foto/Didik Suhartono
Ilustrasi - Sejumlah truk mengantre muatan peti kemas di Terminal Teluk Lamong, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (13/2/2020). - Antara Foto/Didik Suhartono

Bisnis.com ,JAKARTA — Institute For Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan tingkat pertumbuhan ekonomi 2022 sebesar 4,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Ramalan Indef itu lebih rendah dari proyeksi yang ditetapkan oleh pemerintah di angka 5 hingga 5,5 persen. 

Direktur Riset Indef Berly Martawardaya mengatakan proyeksi itu berasal dari dampak eksternal dari berlanjutnya pemulihan ekonomi di negara-negara maju yang berpotensi sulit untuk diantisipasi oleh pemerintah tahun depan. Padahal, kata Berly, kecepatan untuk meredam efek samping dari kebijakan stabilisasi negara-negara maju bakal menjadi penentu utama keberhasilan mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun depan. 

“Salah satu tantangan utama mencapai target pertumbuhan ekonomi pada 2022 adalah terjadinya kenaikan harga energi global. Minyak bumi yang menjadi salah satu bahan baku energi utama dunia mengalami kenaikan harga seiring pemulihan ekonomi global yang dimotori oleh negara-negara maju,” kata Berly dalam Seminar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2022 Indef, Rabu (24/11/2021). 

Sejalan dengan itu, dia mengatakan, harga-harga energi substitusinya pun ikut mengalami kenaikan seperti gas alam dan batubara. Dia menerangkan kenaikan harga energi akan memicu peningkatan biaya produksi, ujungnya harga-harga produk akan lebih mahal. Hanya saja, fenomena peningkatan harga terjadi pada saat daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi. 

“Akibatnya, kenaikan harga energi global tidak hanya akan mengerek inflasi tetapi juga berpotensi memukul tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat secara telak,” kata dia. 

Potensi kenaikan inflasi global yang dipicu oleh kenaikan harga energi dan terganggunya rantai pasok bahan baku, bahan penolong, dan barang konsumsi selanjutnya juga berpeluang mendorong suku bunga global. Umumnya ini akan dipicu oleh kenaikan bunga acuan di negara-negara maju terlebih dahulu, sebelum bergerak ke bunga pasar. 

“Implikasinya gap suku bunga antara negara maju dan negara berkembang menipis dan risiko terjadinya capital outflows meningkat. Situasi ini dapat menjadi lebih runyam lagi jika skenario pengurangan pembelian surat utang pemerintah AS oleh The Fed dilakukan secara agresif,” tuturnya. 

Di sisi domestik, dia mengatakan, secara sektoral pemulihan ekonomi bakal distimulasi oleh sektor-sektor yang berkaitan dengan kebutuhan primer terutama kebutuhan pangan dan kesehatan, serta sektor informasi dan telekomunikasi yang merupakan backbone ekonomi digital. Pada 2022 sektor-sektor tersebut masih akan menjadi motor penggerak utama seiring belum pastinya akhir pandemi. 

“Bersamaan dengan itu mulai membaiknya kinerja sektor industri pengolahan diperkirakan akan berlanjut pada 2022 dengan tantangan utama kenaikan biaya produksi akibat harga energi, dinamika kurs rupiah, serta belum pulihnya daya beli masyarakat,” kata dia. 

Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan indeks keyakinan konsumen atau IKK kembali berada pada area optimis mencapai 113,4 pada Oktober 2021. Torehan itu seiring dengan pelandaian kurva pandemi yang diikuti dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga pada triwulan ketiga tahun ini. 

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Kasan Muhri mengatakan kenaikan IKK terpantau terjadi pada seluruh kategori pengeluaran, tingkat pendidikan dan kelompok usia responden. Menurut Kasan, keberhasilan pemerintah untuk menekan penularan Covid-19 menjadi faktor utama pembalikan IKK pada level optimis. 

“Kinerja perdagangan dalam negeri memperlihatkan kondisi yang semakin membaik pasca penanganan Covid-19 di akhir Juli lalu, keyakinan konsumen bahkan sudah melampaui indeks 100 di bulan Oktober ini,” kata Kasan saat memberi keterangan dalam Seminar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2022 Indef, Rabu (24/11/2021). 

Berdasarkan data yang diolah otoritas perdagangan, penjualan mobil pada kuartal ketiga 2021 sebanyak 234.071 unit atau mengalami peningkatan mencapai 110,65 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, penjualan sepeda motor pada kuartal ketiga 2021 sebesar 1.311.119 atau meningkat 32,43 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi ekonomi indef pemulihan ekonomi
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top