Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menjanjikan, Jokowi Target Ekspor Turunan Nikel Capai US$20 miliar

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memproyeksikan ekspor produk turunan nikel hingga akhir tahun mencapai US$20 miliar seiring dengan upaya industri menggeber produk hilir komoditas tersebut.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 18 November 2021  |  16:14 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pidato di acara Kompas100 CEO Forum di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/11 - 2021) / Youtube Setpres\r\n\r\n
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pidato di acara Kompas100 CEO Forum di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/11 - 2021) / Youtube Setpres\\r\\n\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memproyeksikan ekspor produk turunan nikel hingga akhir tahun mencapai US$20 miliar seiring dengan upaya industri menggeber produk hilir komoditas tersebut.

Dia mengatakan bahwa produk turunan nikel, seperti besi baja dapat memberikan nilai tambah hingga 10 kali lipat dibandingkan dengan mengekspor produk mentah bijih nikel.

Presiden Jokowi memproyeksikan, ekspor dari produk turunan nikel mencapai US$20 miliar sampai akhir 2021. Hingga Oktober 2021, ekspor produk tersebut telah membukukan pendapatan US$16,5 miliar.

“Akhir tahun perkiraan saya, estimasi saya bisa US$20 miliar. Hanya dari kita setop [ekspor nikel]. Kalau nanti jadi barang-barang yang lain, perkiraan saya bisa US$35 miliar hanya dari satu barang,” katanya saat Kompas100 CEO Forum, Kamis (18/11/2021).

Produk besi dan baja mengalami defisit akibat tingginya impor dari China. Jokowi memerinci, defisit produk itu mencapai minus US$18,4 miliar pada 2018. Kemudian, turun menjadi minus US$7,85 miliar pada 2020.

“Penurunan ini terjadi dari besi baja. Dari nikel yang jadi itu. 2021 sampai Oktober sudah minus US$1,5 miliar. 2022 saya yakin kita sudah surplus perdagangan dengan China,” terangnya.

Di sisi lain, Presiden Jokowi mempertanyakan penghiliran produk itu tidak dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Begitupun untuk produk bauksit dan tembaga.

Dia pun mendorong agar komoditas mineral terus melakukan penghiliran untuk mendapatkan nilai tambah bagi dalam negeri.

Nikel dalam negeri disebut menjadi salah satu komoditas masa depan di tengah upaya dunia menekan emisi karbon dari bahan bakar fosil. Namun, beberapa kondisi harus diperbaiki untuk menopang industri tersebut.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan bahwa permintaan nikel dunia akan meningkat seiring dengan mulai gencarnya pengembangan kendaraan listrik.

Pada saat yang sama, Indonesia melarang ekspor bijih nikel, sehingga turut meningkatkan harga komoditas itu di pasar dunia. Hal itu juga turut ditopang dengan kondisi Indonesia sebagai pemasok terbesar dunia untuk nikel.

“Harga nikelnya akan terus tinggi menurut saya. Selama indonesia masih menerbitkan kebijakan seperti itu dan demand juga makin tinggi,” katanya kepada Bisnis, Kamis (11/11/2021).

Nikel, kata dia, akan semakin prospektif seiring dengan perkembangan industri kendaraan listrik. Saat ini, sejumlah negara mulai mengembangkan kendaraan berbahan bakar listrik. Beberapa di antaranya China dan Eropa.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Nikel penghiliran Presiden Joko Widodo
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top