Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Puncak Panen Tidak Optimal, Gapki Prediksi Ekspor CPO Merosot hingga Akhir Tahun Ini

Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) memprediksi target ekspor tahun ini bakal turun signifikan dibandingkan dengan tahun lalu, akibat turunnya produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada puncak panen dua bulan terakhir.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 28 Oktober 2021  |  14:29 WIB
Pekerja memindahkan tandan buah segar sawit. - Sanjit Das/Bloomberg
Pekerja memindahkan tandan buah segar sawit. - Sanjit Das/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) memprediksi target ekspor tahun ini bakal turun signifikan dibandingkan dengan tahun lalu, akibat turunnya produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada puncak panen dua bulan terakhir.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan, asosiasinya mematok target ekspor hingga akhir tahun ini mencapai 35 juta metrik ton, lebih tinggi dari torehan tahun lalu yang mencapai 34 juta metrik ton.

Hanya saja, target ekspor tahun ini diperkirakan merosot dari target yang ditetapkan lantaran potensi turunnya volume produksi CPO pada puncak panen sebesar 1,5 juta ton.

“Target ekspornya 49 juta ton, kami khawatir jangan-jangan tidak tercapai. Kalau produksi September–Oktober 2021 [puncak panen] turun atau mendatar, berarti ekspor kami sama dengan tahun lalu atau turun sedikit,” kata Joko melalui sambungan telepon kepada Bisnis, Kamis (28/10/2021).

Di sisi lain, Joko mengatakan, realisasi ekspor CPO pada paruh pertama tahun ini relatif baik jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Malahan, Joko menambahkan, hingga Agustus 2021 torehan ekspor CPO sudah naik sebesar 6 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Menurutnya, turunnya target ekspor CPO tahun ini juga disebabkan oleh fokus utama komoditas strategis itu bakal diarahkan terlebih dahulu untuk memenuhi pasokan kebutuhan hilir dalam negeri.

“Kalau produksi turun kan biasanya diutamakan dalam negeri dulu, pasti itu untuk kebutuhan pangan, karena sifatnya mandatory, baru ekspor. Kalau tidak ada barangnya, apa yang mau diekspor,” kata dia.

Berdasarkan laporan yang diterima Gapki, potensi anjloknya produksi CPO pada saat panen puncak itu disebabkan karena tidak optimalnya masa tanam pada tahun 2019.

Saat itu, petani memilih untuk tidak memberi pupuk karena harga komoditas yang murah. Selain itu juga terjadi musim kemarau yang berkepanjangan.

“Kalau kering itu pengaruhnya sampai 2 tahun, lalu di awal tahun ini ada La Nina yang juga katanya berpengaruh, tetapi kalau tahun berikutnya juga turun berarti ada faktor fundamental lain yang sedang kami amati,” tuturnya. 

Berdasarkan data milik Gapki, total produksi industri minyak sawit hingga Agustus 2021 mencapai 33,57 juta ton.

Perinciannya, produksi CPO menyentuh di angka 30,676 juta ton, sedangkan CPKO mencapai 2,89 juta ton. Di sisi lain, total konsumsi dari bahan baku itu mencapai 12,25 juta, dan torehan ekspor mencapai 22,79 juta ton.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo gapki ekspor cpo
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top