Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengamat Ragu Pelita Air Bisa Gantikan Garuda GIAA di Layanan Berjadwal

Pelita Air Service (PAS) dikabarkan bakal melayani penerbangan berjadwal dan mengambil alih posisi PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA).
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 20 Oktober 2021  |  19:27 WIB
Pengamat Ragu Pelita Air Bisa Gantikan Garuda GIAA di Layanan Berjadwal
Pelita Air. Wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA – Wacana Pelita Air Service (PAS) dalam melayani penerbangan berjadwal dan mengambil alih posisi PT Garuda-indonesia" target="_blank" title="Garuda Indonesia" >Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) sebagai maskapai penerbangan nasional dinilai masih butuh proses yang panjang untuk direalisasikan.

Ketua Masyarakat Hukum Udara Andre Rahadian memperkirakan rencana pengalihan tersebut tidak bisa terealisasikan dalam waktu dekat.

Kondisi serupa, sebutnya juga dialami oleh Lion air Group yang berencana menggantikan maskapai lamanya Lion Air dengan maskapai baru Super Air Jet. Andre menyebutkan kendati kedua maskapai berada di bawah kepemilikan yang sama tetapi prosesnya juga tidak bisa berlangsung dengan cepat.

Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang harus diperhatikan oleh maskapai untuk membuka layanan berjadwal. Hal itu, dimulai dari membangun jaringan hingga sistem penjualan yang prosesnya memakan waktu lama.

Dia memprediksikan sejumlah proses tersebut paling cepat memakan waktu satu setengah tahun. Apalagi, lanjutnya, dengan melihat adanya pandemi Covid-19 sehingga tantangannya cukup besar.

Saat ini, paparnya, tidak mudah juga bagi maskapai untuk mendatangkan pesawat dan mencari lessor yang mau menyewakan pesawatnya.

“Masih lama tampaknya, karena Garuda maskapai full service dengan operasional dan unit dan jangkauan yang luas. Sementara Pelita selama ini lebih ke charter [sewa]. Jadi dari sisi infrastrukturnya belum siap,” ujarnya, Rabu (20/10/2021).

Di sisi lain, pengamat penerbangan dari Arista Indonesia Aviation Center Arista Atmaji menilai, Pelita kemungkinan besar disiapkan hanya untuk mengisi kekosongan rute yang ditinggalkan Garuda. Sebabm jumlah pesawat yang dimiliki Garuda saat ini telah terpangkas sehingga ada rute yang ditutup dalam penerbangan domestik.

Arista menyangsikan Pelita mampu mengisi posisi flag carrier dalam waktu singkat. Meskipun Garuda saat ini tengah terbelit persoalan keuangan dan restrukturisasi, Arista menilai reputasi maskapai pelat merah itu tak bisa digantikan begitu saja. Hal itu ditunjukkan dengan telah tercatat dalam asosiasi maskapai global dan berpengalaman mewakili Indonesia dalam negosiasi Air Service Agreement.

Dia menilai Pelita lebih tepat bila diproyeksikan sebagai pengganti maskapai Merpati Airlines.

"Pelita menggantikan Merpati menurut saya lebih logis. Kecuali Garuda enggak bisa lolos lubang jarum dengan lessor dan utangnya, itu skenario paling akhir," jelasnya.

Seperti diketahui, kabar PAS yang bakal menggantikan Garuda sebagai maskapai nasional berhembus makin kencang setelah ditunjuknya Albert Burhan mengisi posisi Direktur Utama Pelita. Belum lagi, Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyebutkan apabila negosiasi dan restrukturisasi Garuda tak berjalan mulus, potensi untuk menutupnya terbuka.

"Kalau mentok ya kita tutup, tidak mungkin kita berikan penyertaan modal negara karena nilai utangnya terlalu besar,” kata Tiko, sapaan akrabnya.

Tiko menilai opsi penutupan Garuda tetap terbuka meski berstatus sebagai maskapai flag carrier. Alasannya, saat ini sudah lazim sebuah negara tidak memiliki maskapai yang melayani penerbangan internasional.Untuk melayani penerbangan internasional, maskapai asing akan digandeng sebagai partner maskapai domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN Garuda Indonesia garuda Pelita Air
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top