Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Bhima Yudhistira Adhinegara

Bhima Yudhistira Adhinegara

Peneliti Indef
email Lihat artikel saya lainnya

Opini: Kini Saatnya Lirik Investasi Pertanian

Prospek sektor pertanian masih cerah, khususnya di pasar saham. Emiten-emiten berbasis komoditas pertanian tercatat mengalami kenaikan yang menakjubkan.
Bisnis.com - 05 Oktober 2021  |  10:31 WIB
Opini: Kini Saatnya Lirik Investasi Pertanian
Sektor pertanian semakin menggiurkan saat pandemi Covid-19. - ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Selama masa pandemi, perhatian terhadap ketahanan pangan menjadi isu sentral di berbagai belahan dunia. Pertumbuhan sektor pertanian selama pandemi pun tidak bisa dianggap remeh, selalu positif meski sektor lain mengalami kontraksi.

Sepanjang 2020 sektor pertanian berhasil tumbuh 2,1 persen, dan tren positif ini berlangsung setidaknya hingga kuartal ke-II 2021 dengan tumbuh 0,38 persen. Dari serapan tenaga kerja, penurunan di sektor manufaktur dan sektor usaha lain sebagian beralih profesi menjadi petani di pedesaan. Serapan tenaga kerja di sektor pertanian justru berhasil terjaga di 29,5 persen per Februari 2021, bahkan meningkat 0,36 persen dari tahun sebelumnya.

Prospek investasi di sektor pertanian dalam bentuk PMA tercatat US$208 juta di kuartal ke-II 2021, tumbuh 10,6 persen year-on-year. Fenomena resiliences sektor pertanian dalam menghadapi gempuran badai krisis pandemi juga tercermin dari rally di harga komoditas pertanian global.

Sebagai contoh harga kopi di pasar internasional telah naik 53,2 persen sejak awal tahun 2021, disusul oleh komoditas jagung tumbuh 11,5 persen dan teh 8,3 persen. Meskipun beberapa negara tujuan ekspor melakukan pengetatan akibat lonjakan varian Delta Covid-19, ternyata tak menyurutkan permintaan di sektor pertanian. Kenapa? Karena pangan adalah kebutuhan pokok.

Pembelian baju boleh turun, kendaraan bermotor ikut terseok, tetapi tidak dengan pangan. Lifestyle boleh dinegosiasikan selama masa pandemi, tetapi tidak dengan kebutuhan mengisi kalori harian.

Lantas, bagaimana outlook di sektor pertanian? Prospeknya masih cerah, khususnya di pasar saham. Emiten-emiten berbasis komoditas pertanian tercatat mengalami kenaikan yang menakjubkan.

Jika ada fear of missing out (FOMO) atau takut ketinggalan tren di saham-saham berbasis teknologi, tidak menutup kemungkinan sektor pertanian juga akan menjadi idola para investor, baik investor institusi maupun investor retail.

Jika sektor pertanian berhasil survive selama masa pandemi, lalu bagaimana ketika pandemi mulai berubah menjadi endemi?

Beberapa indikator menguatkan tren sektor pertanian bukan hanya temporer. Justru di saat ekonomi global mulai rebound, negara-negara yang membutuhkan bahan baku pangan akan berebut melakukan pembelian stok secara besar-besaran.

Alhasil booming sektor pertanian diperkirakan berlanjut dalam tahun-tahun mendatang. Lihat misalnya China yang melakukan impor jagung sebesar 11,7 juta ton hanya dalam 5 bulan pertama di 2021, lebih besar dari seluruh pembelian jagung impor sepanjang 2020 lalu.

Perhatian terhadap sektor pertanian juga bersambut dengan kebijakan-kebijakan afirmatif mulai dari penurunan suku bunga KUR pertanian, sampai memastikan penyaluran distribusi pupuk terjaga. Spesifik terkait dengan kebutuhan pupuk, setidaknya perlu mengkover 62,3 juta hektar lahan.

Indonesia adalah negara dengan lahan pertanian, kehutanan, dan perikanan yang terbesar di Asia Tenggara. Di Kalimantan dan Sulawesi, misalnya, dibutuhkan 3 juta ton pupuk untuk menjaga produktivitas lahan pertanian.

Inovasi di sektor pupuk pun menjadi top priority agar intensifikasi pertanian mendorong output yang lebih besar. Digitalisasi usaha tidak hanya dibutuhkan di tingkat pengolahan lahan, tetapi juga dibutuhkan dalam proses produksi pupuk hingga distribusi pupuk menggunakan teknologi geospasial yang dipantau secara online.

Dengan demikian, kebutuhan real di masing-masing daerah dapat segera direspon oleh perusahaan pupuk. Kecermatan dalam distribusi pupuk akan menjamin ketersediaan pupuk yang dibutuhkan oleh para pengelola lahan.

Perusahaan seperti Pupuk Kaltim misalnya mengembangkan teknologi aplikasi Precipalm untuk memberikan rekomendasi penggunaan pupuk bergantung dari informasi lahan yang diolah secara detil. Dengan bantuan aplikasi Precipalm, petani maupun perusahaan pertanian mampu menentukan biaya dan dapat memaksimalkan produktivitas lahan dalam jangka panjang.

Apalagi di sektor perkebunan misalnya yang membutuhkan waktu panen hingga 5-10 tahun, informasi spesifik terkait pemupukan menjadi sangat penting.

Meskipun terdapat peluang besar di sektor pertanian, tetapi tantangannya tentu tidak mudah. Di tengah awan cerah kenaikan permintaan produk pangan juga muncul desakan untuk menggunakan produk yang ramah lingkungan atau berkelanjutan.

Artinya, efisiensi pupuk menjadi strategi yang harus dimiliki setiap produsen pupuk dalam jangka panjang. Pertanyaan seperti, bagaimana dengan penggunaan pupuk yang semakin sedikit, tetapi jumlah produk pangan yang dihasilkan semakin meningkat? Atau pertanyaan bagaimana pengembangan pupuk biofertilizer yang ramah lingkungan? Pertanyaan tersebut perlu segera direspons.

Di sinilah pentingnya melakukan inovasi di bidang produksi pupuk atau diversifikasi usaha berkelanjutan yang tentunya membutuhkan modal tidak sedikit, karena riset secara kontinu terus dilakukan.

Inovasi berikutnya diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan pupuk di dalam negeri. Ketersediaan pupuk bersubsidi menjadi urat nadi dari keberlangsungan produksi pangan. Pupuk Kaltim yang berfokus pada ekspansi penyediaan pupuk dalam negeri di wilayah luar Jawa seperti Kalimantan dan Sulawesi tentu perlu mendapat dukungan penuh, khususnya dari sisi investasi.

Dukungan kepada pemain penting di sektor pertanian mutlak diperlukan, khususnya di industri pupuk. Salah satunya dengan mendorong iklim investasi yang kondusif dan meningkatkan daya tarik investasi di industri pupuk.

Gemerlap sektor pertanian tidak kalah menarik dengan sektor lainnya, tetapi membutuhkan kolaborasi khususnya dari sisi pendanaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi pertanian
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top