Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perjanjian Dagang, Indonesia Perlu Garap Negosiasi Perdagangan Secara Simultan

Indonesia harus mengejar penyelesaian negosiasi perdagangan secara simultan agar peluang keuntungan yang bisa diperoleh produk nasional makin besar.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 26 September 2021  |  18:43 WIB
Ilustrasi sejumlah truk mengantre muatan peti kemas di Terminal Teluk Lamong, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (13/2/2020). ANTARA FOTO - Didik Suhartono
Ilustrasi sejumlah truk mengantre muatan peti kemas di Terminal Teluk Lamong, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (13/2/2020). ANTARA FOTO - Didik Suhartono

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia harus mengejar penyelesaian negosiasi perdagangan secara simultan agar peluang keuntungan yang bisa diperoleh produk nasional makin besar.

Pemerintah tercatat telah meluncurkan dua perundingan dalam skema CEPA tahun ini, terlepas dari belum rampungnya sejumlah negosiasi potensial.

“Saya rasa tidak ada salahnya pemerintah meluncurkan berbagai perundingan baru, meski masih ada yang belum selesai. Memang harus simultan dan tidak bisa satu-satu, karena yang paling banyak membuka akses perdagangan akan memeroleh paling banyak keuntungan,” kata Ekonom Universitas Indonesia (UI) sekaligus Direktur Eksekutif Next Policy Fithra Faisal Hastiadi, Minggu (26/9/2021).

Fithra mengatakan bahwa perluasan kerja sama perdagangan menjadi isu yang penting, mengingat sejumlah negara tetangga telah secara agresif menjalin kemitraan.

Dia memberi contoh Vietnam yang tercatat telah menjalin kesepakatan perdagangan bebas dengan Inggris Raya atau UK dalam UK-Vietnam FTA dan juga EU-Vietnam FTA. Indonesia tercatat belum memiliki kerja sama perdagangan dengan dua entitas tersebut.

“Vietnam menjadi salah satu negara Asean yang agresif. Jika kita tidak memulai perundingan, bisa hanya mendapat remah-remah saja,” katanya.

Fithra menjelaskan, kehadiran kerja sama perdagangan tidak bisa secara langsung membuat produk Indonesia berdaya saing dibandingkan dengan produk negara lain yang telah menjalin kerja sama. Namun, dia meyakini kerja sama perdagangan bebas dapat meningkatkan kapasitas industri Tanah Air.

“Kerja sama perdagangan bebas perlu dilihat sebagai momen bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam jaringan rantai pasok, setidaknya kita bisa mendapat capacity spillover,” jelasnya.

Fenomena tersebut, kata Fithra, terjadi pada Korea Selatan dan China yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari rantai pasok Jepang. Indonesia dinilainya bisa mencapai keberhasilan serupa China dan Korea Selatan jika memanfaatkan kerja sama perdagangan bebas yang diincar secara optimal.

Selain Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Emirat Arab (Indonesia-Uni Arab Emirate Comprehensive Economic Partnership Agreement/I-UAE CEPA) yang diharapkan selesai dirundingkan dalam kurun setahun, Indonesia juga menargetkan Indonesia-Canada CEPA selesai dalam waktu relatif cepat.

Kesepakatan yang telah diluncurkan pada 21 Juni 2021 itu bakal menjadi kerja sama perdagangan pertama Indonesia dengan negara Amerika Utara.

Lewat kerja sama tersebut, pemerintah berharap produk Indonesia bisa makin bersaing dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara yang telah lebih dahulu memiliki perjanjian dagang dengan Kanada.

Sebagaimana diketahui, beberapa negara Asia Tenggara telah bergabung dalam Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP), di antaranya adalah Vietnam dan Malaysia.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Perjanjian Dagang
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top