Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Pakan Ternak Mahal, Pengamat Usul Solusi Jangka Pendek

"Harga pakan terlalu tinggi karena di dalam negeri [stok] berkurang, dari luar negeri juga kurang."
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 19 September 2021  |  23:04 WIB
Pekerja mengeringkan jagung yang baru dipipil di Desa Balongga, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (6/9/2021). Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara nasional khusus untuk sektor pertanian jagung hingga akhir Agustus 2021 telah mencapai Rp1,76 triliun yang disalurkan kepada 72.070 debitur. ANTARA FOTO - Basri Marzuki
Pekerja mengeringkan jagung yang baru dipipil di Desa Balongga, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (6/9/2021). Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara nasional khusus untuk sektor pertanian jagung hingga akhir Agustus 2021 telah mencapai Rp1,76 triliun yang disalurkan kepada 72.070 debitur. ANTARA FOTO - Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA - Minimnya stok pakan ternak yang mendorong harga menjadi tinggi dapat diatasi dengan intervensi cadangan.  

Bustanul Arifin, Guru Besar Pertanian Universitas Lampung yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) mengatakan kemacetan suplai terjadi karena stok dalam negeri tak memadai, sedangkan impor jagung juga tersendat. Ketiadaan stok cadangan nasional menjadi masalah krusial yang menyebabkan instabilitas harga dan pasokan yang berkepanjangan.

Untuk mengurai masalah ini dalam jangka pendek, lanjut Bustanul, pemerintah dapat berkoordinasi dengan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) untuk membagi kelebihan stok yang dimiliki.

"Ini bukan mekanisme pasar, tetapi bolehlah dipanggil, karena mereka mungkin punya stok untuk usaha produksinya yang selama ini mereka impor," katanya.

Dia menyebutkan saat ini, di dalam negeri sentra jagung telah menyelesaikan periode panen. Sedangkan negara utama asal impor jagung seperti Amerika Serikat diperkirakan saat ini sedang musim tanam dan baru akan panen pada Oktober mendatang. Akibatnya, mengikuti hukum pasar, harga bergerak naik.

"Harga pakan terlalu tinggi karena di dalam negeri [stok] berkurang, dari luar negeri juga kurang," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (19/9/2021).

Meski demikian, Bustanul mengapresiasi upaya Kementerian Pertanian dengan program intervensi cadangan yang menyambungkan pemerintah daerah yang surplus jagung dengan yang defisit. Namun demikian, jumlahnya tidak signifikan untuk menstabilkan harga.

Selain persoalan subsidi ongkos angkut, ketersediaan cadangan stok juga terbatas. 

Adapun solusi permanen, pemerintah harus membangun cadangan stok nasional yang berarti pula mendorong produktivitas petani jagung.

"Untuk mengamankan supaya tidak terjadi gejolak harga, hal itu sangat penting," ujar Bustanul.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jagung peternakan
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top