Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Urgensi Industri BBO RI, Implementasi Aturan Perlu Dipercepat

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Instruksi Presiden No.6/2016 tentang percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 13 September 2021  |  19:14 WIB
Petugas menyiapkan obat Covid-19 di gudang instalasi farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/7/2021).  - Antara Foto/Raisan Al Farisi
Petugas menyiapkan obat Covid-19 di gudang instalasi farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/7/2021). - Antara Foto/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA — Industri farmasi dalam negeri sempat mengalami penundaan suplai impor bahan baku pada awal pandemi Covid-19. Hal itu pun mendorong urgensi penguatan industri bahan baku obat (BBO) dalam negeri yang hingga kini baru mampu menyuplai 5–10 persen kebutuhan perusahaan farmasi domestik.

Salah satu yang mengalami penundaan tersebut adalah PT Dexa Medica. Ferry Soetikno, Presiden Direktur Dexa Medica mengatakan BBO yang diimpor dari India seharusnya diterima dalam waktu 5 hari, tetapi molor hingga dua minggu.

"Supply shock ini memberikan pembelajaran untuk membangun industri bahan baku obat," kata Ferry dalam sebuah webinar, dikutip Senin (13/9/2021).

Dia menjelaskan, dari sisi industri hilir, obat jadi Indonesia telah memiliki daya saing dan bisa diterima di banyak pasar ekspor, seperti Vietnam, Filipina, bahkan negara maju seperti Inggris.

Untuk mengembangkan industri BBO domestik, dia mendorong pemerintah untuk mempercepat implementasi kebijakan yang sudah ada, antara lain Instruksi Presiden No.6/2016 tentang percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan.  

Selain itu, untuk BBO domestik yang telah tersedia, pemerintah harus memfasilitasi penggunaannya.

Diketahui, selain menghasilkan obat jadi, Dexa Medica diketahui juga memproduksi bahan baku Omeprazol. Dua produsen lain yang memproduksi BBO yakni PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) dan PT Riasima Adi Farma.

Pemerintah juga didorong untuk menyusun rencana jangka pendek dan jangka menengah untuk pembangunan industri bahan baku obat.

"Libatkan juga setiap industri komponen farmasi dalam negeri untuk implementasi  rencana tersebut," ujarnya. 

Sementara itu, Kementerian Perindustrian menargetkan penurunan impor bahan baku obat (BBO) hingga 40 persen dalam lima tahun ke depan. 

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan industri farmasi yang telah mampu menyuplai hingga 90 persen kebutuhan obat jadi dalam negeri, harus diikuti dengan kemandirian dalam pasokan bahan baku.

"Lima tahun ke depan kami harapkan ada penurunan signifikan, khusus untuk bahan baku, dari tadinya [impor] 90 persen menjadi antara 50–70 persen, jadi menurun kira-kira 40 persen" katanya dalam webinar, dikutip Senin (13/9/2021).

Namun membangun industri BBO bukan perkara mudah. Selain proses yang kompleks, isu yang menjadi hambatan adalah membutuhkan modal yang besar dengan pengembalian yang terbilang panjang.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur obat farmasi
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top