Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tertekan karena Pandemi, Belum Ada Indikasi Pemulihan dari penyewaan Kantor

Pandemi Covid-19 telah mengubah preferensi penyewaan ruang kantor di Jakarta, di mana para penyewa saat ini menginginkan ruang kantor yang terjangkau dan memiliki fasilitas lebih baik.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 30 Agustus 2021  |  18:16 WIB
Tertekan karena Pandemi, Belum Ada Indikasi Pemulihan dari penyewaan Kantor
Jajaran gedung perkantoran di Jakarta, Senin (24/8/2020). Bisnis - Abdurachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM membuat bisnis sewa ruang perkantoran turun. Hingga kini, belum ada indikasi bisnis tersebut pulih meski telah dilakukan penurunan PPKM di sejumlah wilayah.

Wakil Direktur Utama PT Metropolitan Kentjana Tbk. (MKPI) Jeffry S Tanuwidjaja mengatakan bahwa belum ada pergerakan yang signifikan dari bisnis sewa ruang perkantoran, karena pandemi dan PPKM yang diterapkan pemerintah.

Meski begitu, dirinya masih melihat prospek yang menjanjikan dari bisnis ruang perkantoran untuk jangka panjang. Apalagi, okupansi ruang perkantoran yang dimiliki MKPI saat ini lebih dari 70 persen.

“Memang ada penyewa yang mengurangi area sewa, tetapi yang memperluas juga ada,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (30/8/2021).

Seperti diketahui, saat ini MKPI memiliki Pondok Indah Office Tower dan Pondok Indah Office Tower 5 sebagai area perkantoran.

Jeffry menuturkan, harga sewa ruang perkantoran masih belum bisa menyenangkan pemiliknya, karena berada di rata-rata Rp180.000 per meter persegi di luar service charge.

“Dengan masih adanya banyak pasokan dan terbiasanya orang WFH [work from home], untuk saat ini kondisi penyewaan masih cukup berat,” ujarnya.

Sementara itu, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat menuturkan bahwa tingkat hunian perkantoran sepanjang Semester I/2021 mencapai 72,99 persen, atau turun 2 persen jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Hal ini disebabkan penambahan pasokan baru seluas 94.000 meter persegi. Selain pasokan baru, turunnya tingkat hunian juga disebabkan oleh habisnya masa sewa dan perusahaan tidak memperpanjang sewa, relokasi, serta pengurangan ukuran ruang yang diperlukan.

Syarifah menuturkan, pandemi Covid-19 telah mengubah preferensi penyewaan ruang kantor di Jakarta, di mana para penyewa saat ini menginginkan ruang kantor yang terjangkau dan memiliki fasilitas lebih baik.

“Preferensi penyewa untuk relokasi yang bersifat building upgrade dengan spesifikasi fasilitas lebih baik menjadi tren yang semakin kuat di tengah kebutuhan ruang kantor untuk berkolaborasi dan memompa produktivitas pekerja,” tuturnya.

Menurutnya, para penyewa menaruh perhatian lebih pada kenyamanan dan kesehatan ruang kantor, terutama untuk melengkapi sarana tambahan agar bisa menjaga dan memelihara kesehatan para karyawan.

Dalam jangka pendek, desain ulang ruang kantor menjadi salah satu alternatif upaya untuk bisa beradaptasi dan melakukan restrategi operasional perkantoran.

Untuk mempertahankan tingkat hunian, kata dia, para pemilik disarankan memberikan harga sewa yang jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan periode sebelumnya, sebagai salah satu strategi agar ruang kantornya terserap.

“Harga yang terjangkau juga menjadi salah satu pertimbangan penting para penyewa. Jadi harga sewa harus beradaptasi dengan kondisi pasar saat ini,” terang Syarifah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti ruang kantor
Editor : Lili Sunardi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top