Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Negosiasi Dagang Mundur dari Target, Kemendag Beberkan Penyebabnya

Pandemi Covid-19 merupakan salah satu tantangan yang dihadapi Kementerian Perdagangan dalam melanjutkan perjanjian dagang dengan negara mitra. Apa penyebab lainnya?
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 29 Agustus 2021  |  19:58 WIB
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Selasa (19/5/2020). - Bisnis/Himawan L Nugraha
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Selasa (19/5/2020). - Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah negosiasi kerja sama perdagangan prioritas diharapkan selesai pada 2022, mundur dari target awal pemerintah yang sebelumnya dipatok pada 2021. Terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi Indonesia dan negara mitra dalam penyelesaian negosiasi.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebelumnya melaporkan bahwa perundingan yang diharapkan selesai tahun ini, mencakup Indonesia-European Union Comprehensive Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Pakistan Trade in Goods Agreement (TIGA), dan Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Bangladesh, Tunisia, serta Maroko.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono menjelaskan bahwa negosiasi yang berpotensi selesai pada tahun ini, adalah PTA dengan Tunisia. Sementara itu, perundingan lainnya yang menjadi prioritas diharapkan dapat selesai secara substansi tahun depan.

“Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan akibat pandemi, baik dalam melakukan koordinasi secara internal maupun dengan negara mitra,” jelasnya kepada Bisnis, Minggu (29/8/2021).

Djatmiko menjelaskan pula bahwa perundingan secara virtual memengaruhi efektivitas dibandingkan dengan pertemuan langsung. Selain itu, beberapa negara mitra sedang fokus pada penanganan pandemi dan pemulihan ekonominya.

Selain itu, terdapat berbagai isu baru yang mengemuka dalam proses negosiasi, misalnya yang terjadi dalam perundingan IEU-CEPA. Oleh karena itu, diperlukan waktu dalam penyusunan posisi runding untuk memastikan tercapainya kepentingan masing-masing pihak.

Adapun untuk Indonesia-EU CEPA, putaran ke-10 perundingan telah dilakukan secara virtual pada 22 Februari–5 Maret 2021. Putaran ke-11 yang semula dijadwalkan pada Juli 2021, tertunda akibat pandemi Covid-19.

Putaran ke-11 diperkirakan dilakukan pada September atau Oktober 2021. Secara umum, telah tercapai kemajuan di seluruh isu runding. Indonesia dan EU juga berkomitmen untuk menyelesaikan perundingan secepatnya.

Indonesia-Pakistan TIGA telah melalui dua putaran perundingan dan terakhir secara dilaksanakan secara daring pada April 2021. Pertemuan intersesi di tingkat working groups diharapkan dapat terlaksana pada Oktober 2021.

Adapun pembahasan teks perjanjian Indonesia-Bangladesh PTA sebagian besar telah dirampungkan. Djatmiko mengatakan Kemendag sedang berkoordinasi intensif dengan kementerian dan lembaga terkait untuk penysunan revised offer.

Putaran ke-4 perundingan diharapkan bisa dilaksanakan usai revised offer kedua negara dipertukarkan.

Terakhir, Maroko meminta agar dilakukan kerja sama sertifikasi halal sebelum melanjutkan pembahasan PTA. Kemendag berkoordinasi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan Lembaga Standardisasi Nasional Maroko (IMANOR), serta telah dilakukan pertemuan virtual pada 15 Juli 2021.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemendag kerja sama perdagangan Covid-19
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top