Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Prospek Properti, Pergudangan Paling Mampu Bertahan di Tengah Pandemi

Penambahan gudang baru itu direspon cukup baik oleh para tenant, khususnya penyedia jasa logistik dan e-commerce. Hal tersebut terlihat dari permintaan yang cukup sehat, sehingga membuat tingkat hunian rata-rata cenderung stabil di angka 90%.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 28 Juli 2021  |  07:14 WIB
Prospek Properti, Pergudangan Paling Mampu Bertahan di Tengah Pandemi
Kawasan pergudangan Safe n Lock yang dikelola PT Berkah Makmur Amanda Tbk. - mbagroup.id
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Pergudangan menjadi salah satu sektor yang dapat bertahan di tengah pandemi Covid-19 karena tingginya permintaan dari jasa logistik dan e-commerce.

Head of Industrial JLL Indonesia Farazia Basarah mengatakan bahwa pada kuartal II/2021 terdapat penambahan pergudangan seluas 140.000 meter persegi. Adapun saat ini okupansi atau tingkat keterisian gudang sebanyak 91%.

“Kami meyakini akan ada tambahan lagi ruang pergudangan. Sektor pergudangan ini salah satu sektor yang bisa bertahan di kondisi seperti ini,” ujarnya, Selasa (27/7/2021).

Pada kuartal kedua kemarin, kata dia, terdapat empat gudang modern yang selesai dibangun pada kuartal II/2021 di Jakarta dan koridor sebelah timur Jakarta. Hal itu menjadi solusi dari terbatasnya pasokan pergudangan di Jabodetabek.

Menurutnya, penambahan gudang baru itu direspon cukup baik oleh para tenant, khususnya penyedia jasa logistik dan e-commerce. Hal tersebut terlihat dari permintaan yang cukup sehat, sehingga membuat tingkat hunian rata-rata cenderung stabil di angka 90%.

“Selain ruang pergudangan, permintaan data centre atau pusat data juga menjadi daya tarik bagi para investor dan pelaku bisnis lokal maupun internasional,” ujarnya.

Country Head JLL James Allan menambahkan, saat ini investor lokal dan asing masih terlihat cukup aktif di beberapa sektor properti, seperti logistik, pusat data.

“Potensi sosio-ekonomi yang dimiliki Indonesia dan peningkatan penetrasi internet maupun kebiasaan belanja daring menjadi salah satu faktor yang menarik para investor,” ucapnya.

Sementara itu, Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto berpendapat, kawasan industri akan menjadi sektor properti yang akan pulih lebih dulu karena masih ada potensi permintaan yang tertahan.

Adapun, pemulihan sektor properti baru akan terjadi pada awal 2022. Hal ini dikarenakan kenaikan kasus Covid-19 melalui varian delta disebut semakin menekan kinerja sektor ini.

Dia menuturkan, permintaan lahan dari data center saat ini masih cukup massif karena banyak masyarakat yang masih melakukan aktivitas dari rumah.

“Meningkatnya transaksi e-commerce hingga logistik sangat mendukung permintaan tersebut," tuturnya.

Di sisi lain, industri makanan, minuman, kimia dasar, dan fast-moving consumer goods (FMCG) akan terus mendorong penyerapan lahan ke depannya.

Ferry menuturkan, penyerapan lahan kawasan industri pada semester I/2021 cukup tinggi. Untuk kawasan industri Cikembar saja sudah mulai berjualan, dan menandakan minat ke daerah selatan cukup tinggi.

“Industri berkembang ke kawasan selatan di Sukabumi dengan beroperasinya Kawasan Industri Cikembar seluas 223 hektare. Lalu di semester I/2021 ada penambahan lahan industri di Kawasan Industri Modern Cikande 80 hektare dan KIIC 105 hektare,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti pergudangan
Editor : Lili Sunardi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top