Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Konsumsi Listrik Bisnis dan Publik Turun Hingga 2.000 MW selama PPKM Darurat

Penurunan konsumsi listrik itu membuat PLN harus mengatur pasokan dan beban untuk memastikan keandalan tenaga listrik di seluruh wilayah. Dia pun memastikan hingga kini pasokan listrik dari pembangkit PLN masih dalam keadaan aman.
Penampakan trafo Interbus Transformer (IBT) unit 2 Gardu Induk (GI) Kiliranjao di Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat./Istimewa - PLN
Penampakan trafo Interbus Transformer (IBT) unit 2 Gardu Induk (GI) Kiliranjao di Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat./Istimewa - PLN

Bisnis.com, JAKARTA—Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat tahap pertama pada 3—20 Juli 2021 membuat konsumsi listrik, khususnya untuk sektor bisnis dan public menurun.

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PT PLN (Persero) Bob Saril mengatakan bahwa dampak terbesar dari penerapan PPKM darurat adalah terjadi penurunan konsumsi listrik di gedung-gedung pemerintahan, sosial, dan rumah ibadah.

“Kalau melihat ke beban harian rata-rata turun 1.900—2.000 megawatt [MW] dari sebelum PPKM darurat,” katanya kepada Bisnis, Rabu (21/7/2021).

Penurunan konsumsi listrik itu membuat PLN harus mengatur pasokan dan beban untuk memastikan keandalan tenaga listrik di seluruh wilayah. Dia pun memastikan hingga kini pasokan listrik dari pembangkit PLN masih dalam keadaan aman.

“Secara sistem diatur dan disesuaikan dengan merit-nya, namun tetap andal,” jelasnya.

Sebelumnya, Bob juga sempat mengatakan PLN mulai mengatur kembali dispatch pembangkit agar sesuai dengan beban yang ada untuk mengatasi kelebihan pasokan listrik selama PPKM darurat.

Selain itu, manajemen PLN melakukan penyesuaian pola operasi dalam menempatkan orang untuk menghadapi situasi di lapangan. Kemudian, perusahaan juga melakukan efisiensi di beberapa sisi pengeluaran perusahaan.

“Jadi tentu saja kami akan merespons itu dengan efisiensi beberapa pengeluaran. Kami akan meningkatkan keandalan pelayanan untuk memastikan bahwa semua berjalan dengan baik,” ucapnya.

Dia pun telah memperkirakan serapan pasokan listrik untuk sektor bisnis bakal turun signifikan seiring dengan adanya pembatasan mal dan perkantoran nonesensial.

Sementara itu, untuk sektor rumah tangga akan meningkat seiring dengan dengan diberlakukannya work from home, begitu juga dengan sektor industri yang kegiatannya mulai naik.

Alhasil, secara keseluruhan akan ada penurunan konsumsi listrik, meski tidak akan sebesar pada 2020.

“Kami tingkatkan keandalan listrik agar warga bisa WFH [work from home] dengan nyaman dan lancar. Pasokan listrik ke industri kami tingkatkan keandalannya. Kebutuhan listrik sektor yang sangat esensial dan kritikal, seperti rumah sakit dan industri oksigen, itu kami tingkatkan keandalannya lebih luar biasa lagi sehingga semua bisa berjalan baik,” jelasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Muhammad Ridwan
Editor : Lili Sunardi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper