Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kementerian ESDM Dorong Peningkatan Biogas Jadi Bio-CNG

Sebagai negara penghasil minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan sumber daya alam, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan limbah CPO, limbah pertanian, dan peternakan menjadi biogas serta biomethane.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 08 Juli 2021  |  18:22 WIB
Kementerian ESDM Dorong Peningkatan Biogas Jadi Bio-CNG
Bus berbahan bakar biogas. - Skoda

Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong pengembangan bio-compressed natural gas atau bio-CNG dalam skala komersial sebagai bahan bakar transportasi dan substitusi liquefied petroleum gas untuk industri.

Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengatakan, bio-CNG atau biomethane merupakan hasil pemurnian biogas (pure methane), di mana senyawa gas pengotor dibuang untuk menghasilkan gas methane dengan kadar di atas 95 persen, sehingga karakteristiknya menyerupai CNG.

“Pengembangan biomethane skala komersial bisa digunakan sebagai bahan bakar nonlistrik, seperti transportasi dan juga sebagai subtitusi untuk LPG [liquefied petroleum gas] yang dapat digunakan untuk industri. Kalau bio-CNG ini kami kembangkan dengan baik, harapan kami bisa mereduksi impor LPG,” ujar Feby dalam sebuah webinar, Kamis (8/7/2021).

Feby menuturkan, sebagai negara penghasil minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan sumber daya alam, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan limbah CPO, limbah pertanian, dan peternakan menjadi biogas serta biomethane.

Dalam mendorong pengembangan bio-CNG, Kementerian ESDM bersama dengan Global Green Growth Institute (GGGI) telah melakukan studi pasar pengembangannya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Studi itu akan segera dilanjutkan dengan pendampingan teknis untuk persiapan implementasi pembangunan bio-CNG.

“Walaupun kita punya potensi bio-CNG cukup besar, tapi belum bisa berkembang komersial. Banyak tantangan yang jadi PR [pekerjaan rumah] kita bersama, baik dari sisi kebijakan, keekonomian, dan tata niaga,” kata Feby.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan CNG Indonesia (APCNGI) Dian Kuncoro mengatakan, investasi untuk distribusi dan infrastruktur pemanfaatan CNG membutuhkan biaya investasi yang lebih mahal dibandingkan dengan LPG.

Hal itu disebabkan oleh karakteristik keduanya yang berbeda. Misalnya, CNG memiliki tekanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan LPG sehingga untuk mengangkutnya ke pelanggan membutuhkan material tabung yang lebih kuat. Itu akan membuat ongkos dari sisi material menjadi lebih mahal.

“Harga jual CNG di industri range US$10—US$13 per MMBTU, itu rangkaian cost strucure sampai industri,” kata Dian.

Oleh karena itu, untuk mendorong pemanfaatan bio-CNG sebagai energi alternatif harus dipastikan bahwa biaya pengolahan biogas memiliki nilai kompetisi dengan harga gas pipa.

Cost dari biogas untuk jadi gas berapa? Ini belum jadi bio-CNG nih. Apakah bisa US$6—US$7 MMBTU? Ini harus punya nilai kompetisi dengan harga gas pipa, karena kami sebagai pemain CNG kalau nanti biogasnya lebih mahal dari gas pipa, ya kami tidak mungkin beli yang lebih mahal,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementerian esdm biogas cng
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top