Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Bidik Penguatan Perdagangan dan Investasi dengan Eurasia

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengusung sejumlah isu strategis penguatan kerja sama saat melakukan lawatan ke Rusia pada 2–5 Juni 2021. 
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 07 Juni 2021  |  10:02 WIB
Layar menampilkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memberikan pemaparan dalam acara Bisnis Indonesia Business Challenges 2021 di Jakarta, Selasa (26/1/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha
Layar menampilkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memberikan pemaparan dalam acara Bisnis Indonesia Business Challenges 2021 di Jakarta, Selasa (26/1/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perdagangan membidik kerja sama perdagangan dan investasi yang lebih besar dari Rusia dan negara-negara yang tergabung dalam Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU).

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengusung sejumlah isu strategis penguatan kerja sama saat melakukan lawatan ke Rusia pada 2–5 Juni 2021. 

Ketika bertemu dengan Menteri Industri dan Perdagangan Rusia Denis Manturov, Lutfi menyampaikan harapan Indonesia agar relasi perdagangan dengan Rusia berjalan lebih intens. Selain itu, Indonesia juga berupaya mengurangi hambatan akses kelapa sawit di Rusia.

“Pada pertemuan dengan Menperindag Manturov, Indonesia mengharapkan relasi perdagangan yang lebih intens dengan Rusia. Selain itu, Indonesia juga berupaya mengurangi hambatan akses kelapa sawit di Rusia,” kata Lutfi dikutip dari keterangan resmi, Senin (7/6/2021).

Lutfi juga menyampaikan ketertarikan Indonesia untuk berpartisipasi pada INNOPROM Trade Fair dan Kazan Halal Expo 2021. Sementara Manturov menyampaikan permohonan agar Indonesia dapat mendukung Rusia menjadi tuan rumah World Expo 2030 dan kesediaan untuk melaksanakan Expert Meeting on Fisheries and Agriculture dalam waktu dekat

Indonesia juga kembali menawarkan minyak sawit (CPO) dan turunannya dalam pertemuan dengan Menteri yang Bertanggung Jawab atas Integrasi dan Makroekonomi Komisi Ekonomi Eurasia Sergei Glazyev.

Mekanisme perdagangan sawit bisa melalui pengiriman secara langsung maupun lewat pembangunan pabrik pengolahan untuk memproduksi produk CPO dan turunannya, seperti minyak goreng atau fat oil turunan lain guna memenuhi kebutuhan industri di kawasan Eurasia.

Selain itu, Lutfi juga menyampaikan perhatian Indonesia mengenai aturan EAEU terkait pembatasan kandungan kontaminan untuk minyak nabati yang cenderung lebih ketat dibandingkan dengan negara tujuan ekspor lainnya seperti Uni Eropa.

Berbagai pertemuan bilateral ini lantas ditutup dengan kesepakatan antara Indonesia dan EAEU untuk meningkatkan hubungan dagang. Lutfi dan Menteri yang Bertanggung Jawab atas Perdagangan EEC Andrey Slepnev sepakat untuk segera menyelesakan Joint Feasibility Study FTA Indonesia-EAEU.

“Indonesia dan EAEU sepakat untuk menyelesaikan Joint Feasibility Study FTA sesuai dengan jadwal yang direncanakan pada September 2021. Indonesia juga mengusulkan agar peluncuran pembentukan FTA dapat segera dilakukan di Indonesia,” kata Lutfi.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Djatmiko Bris Witjaksono menyampaikan, Joint Feasibility Study Group (JFSG) Indonesia dan EAEU perlu segera diselesaikan sebagai tindak lanjut dari pertemuan kedua kepala negara di sela-sela Asean-Russia Summit di Sochi pada Mei 2016.

Total perdagangan Indonesia-EAEU pada 2020 tercatat sebesar US$2,25 miliar. Ekspor Indonesia ke EAEU sebesar US$1,00 miliar dan impor US$1,25 miliar.

Komoditas ekspor Indonesia ke EAEU mencakup minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya (US$431,4 juta), kopra (US$67,2 juta), kopi (US$36,7 juta), karet alam (US$32,3 juta), dan mentega kakao (US$32,3 juta). 

Sementara komoditas impor Indonesia dari EAEU antara lain pupuk nonorganik atau kimia, potassic (US$272,1 juta), besi dan baja setengah jadi (US$266 juta); batu bara (US$159,2 juta), ferro alloys (US$149,9 juta), serta pupuk nonorganik atau kimia dengan 2–3 elemen pupuk (US$78,2 juta).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rusia kemendag Perjanjian Dagang
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top