Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

AESI Dorong Pengembangan Industri EPC PLTS Skala Kecil

Pengembangan industri hulu panel surya dalam negeri perlu segera didorong untuk mengantisipasi masifnya pengembangan PLTS pada masa mendatang.
Petugas memeriksa panel surya di PLTS Gili Trawangan/ Bisnis - David E. Issetiabudi
Petugas memeriksa panel surya di PLTS Gili Trawangan/ Bisnis - David E. Issetiabudi

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bertekad mendorong pengembangan industri skala kecil dan menengah di bidang penyedia jasa atau engineering, procurement & construction (EPC) panel surya. Hal ini bertujuan untuk mendukung pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di dalam negeri.

Ketua Umum AESI Fabby Tumiwa mengatakan bahwa pihaknya akan gencar untuk memberi sejumlah pelatihan untuk mengakselerasi wirausaha di bidang EPC panel surya.

"Selain mendorong pengembangan pasar PLTS lewat kebijakan, regulasi, kami juga ingin ciptakan 1.000 perusahaan-perusahaan EPC panel surya skala kecil untuk melayani pasar," ujar Fabby dalam diskusi media, Selasa (1/6/2021).

"Dalam 6 bulan ke depan kami akan uji coba 50 [wira usaha]. Kami siapin untuk di-training, punya sertifikasi, kami siapkan juga supply chain-nya. Untuk EPC skala kecil supaya bisa sustain bisnisnya paling tidak bisa pasang 20—30 kilowatt peak per bulan," imbuhnya.

Menurutnya, pengembangan industri hulu panel surya dalam negeri perlu segera didorong untuk mengantisipasi masifnya pengembangan PLTS pada masa mendatang.

AESI memperkirakan seiring dengan gencarnya gerakan dekarbonisasi di seluruh dunia pengembangan PLTS akan meningkat signifikan dan membuat modul surya menjadi komoditas bernilai tinggi.

Menurut skenario International Energy Agency (IEA), energi surya dan angin diperkirakan memasok 70 persen permintaan energi dunia pada 2050. Kapasitas terpasang PLTS pun diproyeksikan akan meningkat dari 160 gigawatt (GW) pada saat ini menjadi 650 GW pada 2030.

"Potensi pertumbuhan market PLTS bisa 1—1,5 GW per tahun, tapi sebagian besar kebutuhan modul surya kita masih impor. Industri modul surya Indonesia kapasitasnya 500 MW, tapi produksinya real-nya hanya 20—30 MW per tahun karena pasarnya belum banyak. Ke depan PLTS berkembang tidak mungkin kita hanya bergantung ke impor," kata Fabby.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Zufrizal
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper