Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Minyak Meroket, Investasi Migas Masih Seret. Kok Bisa?

Keputusan investor yang masih menahan minat investasinya dan juga tidak adanya eksplorasi baru dengan skala besar ditenggarai sebagai penyebab masih seretnya investasi hulu migas di Indonesia pada tahun ini.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 18 Mei 2021  |  23:08 WIB
Kilang Plaju PT Pertamina (Persero) Refinery Unit III Palembang. istimewa
Kilang Plaju PT Pertamina (Persero) Refinery Unit III Palembang. istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi dalam negeri belum menunjukkan adanya peningkatan kendati harga minyak dunia tengah mengalami kenaikan sepanjang tahun ini, setelah sempat terperosok jauh tahun lalu.

Keputusan investor yang masih menahan minat investasinya dan juga tidak adanya eksplorasi baru dengan skala besar ditenggarai sebagai penyebab masih seretnya investasi hulu migas di Indonesia pada tahun ini.

Pendiri Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan, pada dasarnya skala untuk besaran investasi dari para pelaku hulu migas di Tanah Air terbatas, yaitu mayoritas investasi yang dikucurkan hanya seputar untuk menjaga produksi yang ada.

Belum ramahnya iklim investasi hulu migas di Indonesia membuat investor masih enggan untuk menggelontorkan dananya untuk memulai proyek hulu migas baru di Indonesia.

"Lonjakan investasi itu kan hanya akan ada kalau misal ada eksplorasi skala besar atau project skala baru besar. Kalau tidak ada yang baru dan skala tidak besar, hanya seputar menjaga tingkat lifting, ya akan berkutat di angka-angka yang sekarang ada saja," katanya kepada Bisnis, Selasa (18/5/2021).

Direktur Executive Energy Watch Mamit menilai investor masih menunggu perkembangan dari pergerakan harga minyak dunia sampai dengan posisi yang stabil. Menurutnya, investor masih meyakini bahwa kenaikan harga minyak yang terjadi masih bersifat sementara.

Pertumbuhan ekonomi secara global dengan program vaksinasi yang saat ini di jalankan masih belum bisa optimal. Banyaknya gelombang ke dua dan ke tiga Covid-19 di beberapa negara dengan konsumsi energi tinggi menjadi salah satu penyebabnya.

"Selain itu, kondisi ekonomi nasional juga belum tumbuh serta masih ada pembatasan di dalam negeri sedikit banyak mempengaruhi investor. Proses perizinan, pengadaan barang, transportasi masih belum optimal karena pandemi ini mempengaruhi kegiatan di sektor hulu migas kita," jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak hulu migas
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top