Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Impor Pakaian Jadi Masih Dikeluhkan Pengusaha TPT Lokal

Saat ini utilisasi industri hulu TPt terpantau masih stagnan di level 60 persen.
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 16 Mei 2021  |  17:06 WIB
Impor Pakaian Jadi Masih Dikeluhkan Pengusaha TPT Lokal
Penjual bahan kain menata dagangannya di Pusat Grosir Tanah Abang, Jakarta, Jumat (14/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menilai Lebaran kali ini lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu dalam mendorong kinerja industri TPT.

Kendati demikian, maraknya penjualan pakaian impor khususnya di marketplace menjadi sorotan besar saat ini.

Analis Kebijakan Industri dan Perdagangan Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi mengatakan saat ini masyarakat sudah cenderung dapat beraktivitas dengan menerapkan protokol kesehatan. Sejalan dengan hal itu belanja online juga meningkat.

"Hanya saja impor pakaian jadi di marketplace ini besar sehingga jika safeguard pakaian jadi sudah ditetapkan dan dilaksanakan dengan efektif pasti akan terasa bagi industri TPT meski hanya sementara karena industri butuh kepastian pasar dalam negeri," katanya kepada Bisnis, Minggu (16/5/2021).

Farhan menyebut saat ini utilisasi industri hulu terpantau masih stagnan di level 60 persen. Adapun utilisasi yang turun akibat shipment yang sulit dan bahan baku khususnya purified therephalic acid (PTA) yang kurang.

Dia juga menilai secara keseluruhan daya beli masyarakat saat ini belum pulih ditambah adanya pembatasan pusat perbelanjaan masih menjadikan penjuaan belum sepenuhnya kembali seperti sebelum Ccovid-19.

Direktur Eksekutif Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) Riza Muhidin sebelumnya pernah menghitung jika 130.000 ton garmen yang selama ini diimpor bisa disubstitusi oleh produk dalam negeri maka perekonomian negara akan mendapat benefit yang sangat besar karena dampaknya bukan hanya untuk industri garmen itu sendiri, tetapi juga untuk produsen di mid-stream dan di up-stream.

"Kita bisa lihat bahwa safeguard tidak hanya menghemat US$850 juta devisa, tetapi juga mendorong kegiatan produksi sebesar Rp22,6 triliun atau US$1,5 miliar," ujar Riza.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Industri Tekstil lebaran
Editor : Zufrizal
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top