Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penjualan Batu Pertama Seret, Pedagang di Thailand Gelar Doa Bersama

Pedagang batu permata di Thailand menggelar doa bersama, meskipun pandemi virus corona belum usai.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 13 Mei 2021  |  20:51 WIB
Batu permata. - ilustrasi
Batu permata. - ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA--Pedagang batu permata di Thailand mengeluh karena krisis ekonomi negara yang tengah berjuang melawan Covid-19. Namun mereka tetap menjalankan rutinitas untuk beribadah di bulan Ramadan dan berdoa bersama.

Ketika virus Covid-19 terus mengancam negara-negara di Asia Tenggara, otoritas kesehatan di Thailand sedang bekerja untuk mengatasi krisis komunitas pedagang batu permata  di bagian tenggara negara yang dekat perbatasan dengan Kamboja.

Kota Chanthaburi yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat bisnis batu rubi, safir, dan batu lainnya  berada di keterpurukan akibat imbas Covid-19.

Melansir dari Thenewyorktimes, Kamis (13/5/2021) virus tersebut  telah menginfeksi  166 komunitas pedagang dari Afrika yang bekerja di negara tersebut.  Dan 103 warga Thailand di kota itu juga dinyatakan positif akibat wabah terbaru itu berdasarkan laporan para pejabat.

Sekelompok kasus muncul saat Thailand memerangi wabah terburuknya sejak pandemi dimulai. Selama hampir tiga minggu, negara itu rata-rata mengalami sekitar 2.000 kasus baru setiap hari. Bahkan lebih dari dua kali lipat dari puncak terburuknya pada Januari.

Wabah terbesar telah dilaporkan di Bangkok, yang ditutup sebagian. Pada hari Rabu (12/5/2021), pemerintah melaporkan 34 kematian yang menjadi sebuah rekor, dan 1.983 kasus. Salah satu yang meninggal berasal dari Finlandia.

Thailand adalah salah satu negara paling efektif tahun lalu dalam mengendalikan virus, tetapi lambat dalam menahan wabah tahun ini dan tertinggal dari negara lain dalam pengadaan vaksin.

Sekarang, dengan lonjakan kasus terbaru, negara gajah putih tersebut berebut untuk mendapatkan suntikan dan mengembangkan program inokulasi massal.

Beberapa pejabat telah menyatakan bahwa orang asing tidak akan divaksinasi, meskipun wabah sebelumnya terjadi di antara pekerja migran dari Myanmar. Dan sekarang di antara pedagang batu permata Afrika.

Pejabat lain mengatakan bahwa Thailand akan menyuntik para orang asing, tetapi belum memberikan rinciannya. Thailand yang memiliki populasi sekitar 70 juta penduduk adalah rumah bagi lebih dari dua juta orang asing yang tinggal di negara itu secara legal.

Lebih dari dua juta  diyakini tinggal di negara itu secara ilegal. Selama bertahun-tahun, bisnis permata telah menarik pedagang dari beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim di Afrika, termasuk Gambia, Guinea, dan Mali. Banyak dari mereka telah menetap di Thailand, menikahi istri Thailand dan mengimpor batu permata dari Afrika.

Sankung Kongeh, seorang pedagang dari Gambia, mengatakan anggota komunitas Afrika berkumpul setiap hari di kantor mereka dan di pasar, di mana mereka bekerja, berbicara dan makan bersama.

Selama Ramadan, yang dimulai 12 April 2021 banyak juga yang berdoa bersama katanya. Kontak sosial yang erat seperti itulah yang telah memicu wabah di seluruh dunia, tetapi Kongeh menganggap doa bersama sebagai risiko yang signifikan.

“Kemungkinan penyebaran Covid-19 tidak ada hubungannya dengan berdoa bersama,” kata Kongeh, yang baru-baru ini dinyatakan negatif.

 “Selama  di kantor tempat kami menyalakan AC, pintu tertutup, dan kami mengobrol satu sama lain, minum teh hangat. Mungkin ada 10 atau 12 dari kita yang duduk bersama. Kami tidak berbicara satu sama lain selama doa," tandas Kongeh.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

thailand pedagang
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top