Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Serapan Bulog Belum Maksimal, Perlu Impor Beras?

Serapan Bulog dinilai belum maksimal kendati telah menambah stok menjadi 1,3 juta ton.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 04 Mei 2021  |  23:19 WIB
Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat
Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Perum Bulog telah menyerap lebih dari 535.000 ton setara beras pada puncak panen yang jatuh pada Maret dan April tahun ini dan menambah stok kelolaannya menjadi 1,3 juta ton. Meski demikian, perusahaan tetap diharapkan bisa menyerap lebih banyak demi menjaga harga di petani yang rentan terkontraksi.

Namun outlet penyaluran beras Bulog yang terbatas membuat sejumlah penggiat dan pengamat pangan sangsi Bulog bisa menyerap dalam volume lebih besar. Perusahaan pun telah mengakui pentingnya jaminan penyaluran untuk memastikan stok yang dikelola terus berputar dan bisa diperbarui.

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengatakan Perum Bulog tetap berpeluang menjaga stok CBP di angka yang diamanatkan pemerintah. Dengan asumsi volume penyaluran sebesar 80.000 ton setiap bulan dan stok sampai akhir Juni berada di angka 1,5 juta ton, dia memperkirakan stok akhir Bulog masih bisa dijaga di kisaran 1 juta ton sampai akhir tahun.

“Kalau sampai Juni nanti stok bisa mencapai 1,5 juta ton, dengan asumsi outlet per bulan sekitar 80.000 ton, sampai akhir tahun stok bisa dijaga sekitar 1 juta ton,” kata dia, Selasa (4/5/2021).

Potensi impor beras yang sempat mengemuka, menurut Khudori, perlu dikaji pada waktu yang tepat. Pemerintah harus terlebih dahulu melihat realisasi penyerapan Bulog sampai Juni untuk mengettahui stok CBP serta melihat realisasi produksi pada subround I (Januari sampai April) dan potensi produksi pada subround selanjutnya.

“Idealnya rentang Juli sampai September bisa diputuskan apakah perlu impor atau tidak,” lanjutnya.

Khudori berpandangan memutuskan impor saat ini dengan menjadikan stok di Bulog sebagai indikator bukanlah hal yang tepat. Indikator dari sisi harga dan produksi pun menunjukkan bahwa pasokan beras dalam kondisi yang memadai dan tanpa gangguan.

Data sementara Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan produksi beras pada periode Januari sampai Mei bakal mencapai 15,89 juta ton. Angka ini naik 5,77 persen atau bertambah 870.000 ton dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama pada 2020.

Adapun produksi beras nasional sepanjang 2020 tercatat naik tipis 0,07 persen dari 31,31 pada juta ton menjadi 31,33 juta ton. Kenaikan produksi ini terjadi meskipun puncak panen mengalami kemunduran.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bulog
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top