Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Komentar Warren Buffett Soal Ekonomi AS Usai Pandemi: Sangat Panas

Buffett mengaitkan pemulihan yang lebih cepat dari perkiraan dengan langkah-langkah penyelamatan oleh Federal Reserve dan pemerintah AS, yang membantu mendorong 85 persen perekonomian ke dalam kecepatan super.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 03 Mei 2021  |  10:38 WIB
Orang terkaya di dunia Warren Buffet - memolition.com
Orang terkaya di dunia Warren Buffet - memolition.com

Bisnis.com, JAKARTA - Warren Buffett menyampaikan penilaian yang jelas tentang keadaan ekonomi AS saat keluar dari pandemi dan menyebutnya akan sangat panas.

“Ini hampir seperti hiruk pikuk membeli. Orang-orang punya uang di saku mereka dan mereka membayar harga yang lebih tinggi," kata kepala eksekutif Berkshire Hathaway Inc. itu selama pertemuan tahunan konglomerat, yang diadakan secara virtual dari Los Angeles, dilansir Bloomberg, Senin (3/4/2021).

Buffett mengaitkan pemulihan yang lebih cepat dari perkiraan dengan langkah-langkah penyelamatan oleh Federal Reserve dan pemerintah AS, yang membantu mendorong 85 persen perekonomian ke dalam kecepatan super.

Namun, karena pertumbuhan kembali rebound dan suku bunga tetap rendah, inflasi mungkin akan lebih tinggi daripada yang diantisipasi enam bulan lalu.

Buffett bertemu kembali dengan teman lama dan mitra bisnisnya Charlie Munger untuk pertemuan tahun ini. Munger tidak bisa menghadiri pertemuan tahun lalu di Omaha, Nebraska - kota kelahiran Buffett - karena penutupan di seluruh negeri. Beberapa pemegang saham merasa lega melihat keduanya mengajukan pertanyaan bersama lagi.

"Saya benar-benar merasa bahwa Charlie dan Warren menunjukkan tingkat ketajaman dan energi intelektual mereka yang biasa dan luar biasa," kata James Armstrong, yang mengelola aset termasuk saham Berkshire sebagai presiden Henry H. Armstrong Associates.

Buffett dan Munger menghabiskan waktu berjam-jam menjawab pertanyaan, mulai dari ekonomi, hingga iklim dan keragaman, ledakan SPAC, pajak, dan suksesi.

Mengenai upaya perubahan iklim, Berkshire menghadapi tekanan dari dua proposal pemegang saham, salah satunya untuk meningkatkan transparansi terkait upayanya terhadap perubahan iklim.

Ditanya tentang saham Berkshire di produsen minyak dan gas Chevron Corp., yang diungkapkannya awal tahun ini, Buffett mengatakan dia merasa tidak ada penyesalan sama sekali tentang kepemilikannya di perusahaan, yang menurutnya telah menguntungkan masyarakat dalam banyak hal.

Sementara itu, mengenai lonjakan perusahaan akuisisi bertujuan khusus (SPAC) untuk listing di bursa AS, Buffett memperingatkan investor bahwa Berkshire mungkin tidak beruntung mendapatkan kesepakatan semacam itu.

"Itu tidak akan berlangsung selamanya, tetapi di situlah uangnya sekarang, dan Wall Street pergi ke tempat uang itu berada," katamya.

Adapun terkait pajak, Buffett mengatakan proposal Presiden Joe Biden untuk kenaikan pajak perusahaan akan merugikan pemegang saham Berkshire. Dia menambahkan bahwa undang-undang antitrust dan kebijakan pajak dapat mengubah banyak hal untuk perusahaan, tetapi undang-undang perpajakan yang baru tidak akan mengubah kebijakan tanpa dividen.

Sebelum pertemuan tahunan dimulai, perusahaan merilis pendapatan kuartal pertama, perusahaan mengumumkan keuntungan operasi 19,5 persen selama periode tersebut.

Berkshire mengakhiri kuartal tersebut dengan hampir mencapai rekor US$ 145,4 miliar uang tunai karena terus menghasilkan dana lebih cepat daripada yang dapat dilakukan oleh Buffett. Namun Buffett juga akhirnya menarik kembali beberapa pengungkit penggunaan modal selama periode tersebut.

Buffett membeli kembali hanya US$6,6 miliar saham Berkshire sendiri, kurang dari rekor US$ 9 miliar yang ditetapkan pada kuartal sebelumnya, dan berakhir dengan tingkat penjualan saham bersih tertinggi kedua pada kuartal pertama dalam hampir lima tahun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as warren buffett Covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top