Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bahan Baku Mahal, Waspada Kenaikan Harga Baja Ringan

Harga Hot Rolled Coil (HRC) yang pada Agustus 2020 lalu masih US$500-US$600 per ton dan saat ini sudah lebih dari US$1.000 per ton, bahkan di Amerika Serikat sudah US$1.400 per ton.
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 26 April 2021  |  19:03 WIB
Pekerja memotong lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten.  - Antara/ASEP FATHULRAHMAN
Pekerja memotong lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten. - Antara/ASEP FATHULRAHMAN

Bisnis.com, JAKARTA — Produsen baja ringan menyebut saat ini terjadi kenaikan harga produksi akibat adanya kelangkaan baja dunia yang membuat harga sudah dua hingga tiga kali lipat mengalami kenaikan.  

Ketua Umum Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) Stephanus Koeswandi bahkan menggambarkan kondisi tersebut seperti terjadi gelombang tsunami.

Pasalnya, dia mencontohkan seperti harga Hot Rolled Coil (HRC) yang pada Agustus 2020 lalu masih US$500-US$600 per ton dan saat ini sudah lebih dari US$1.000 per ton, bahkan di Amerika Serikat sudah US$1.400 per ton.

"Akibatnya harga pada produk turunan ini semakin naik masalahnya produk kami yang semakin dekat dengan end user tidak bisa serta merta bisa melakukan kenaikan harga," katanya kepada Bisnis, Senin (26/4/2021).

Stephanus menyebut pihaknya sudah mulai melakukan notifikasi ke sejumlah pemangku kepentingan akan kondisi yang terjadi saat ini.

Sementara dari sisi permintaan, Stephanus menilai terjadi kenaikan yang harus diwaspadai agar tidak adaspekulan yang ingin memanfaatkan kondisi ini. Biasanya, lanjut dia, memasuki periode Ramadan dan Lebaran penjualan akan melambat sejenak karena pengerjaan proyek tidak maksimal.

"Jadi secara produksi sudah ada kenaikan 15-20 persen untuk baja ringan, utilisasi juga meningkat menjadi 58 persen dari yang masa pandemi anjlok di 30 persen," ujar Stephanus.

Menurutnya, guna menyesuaikan kondisi yang dilakukan produsen saat ini adalah menjaga ketersediaan stok dan harga. Hal itu, agar tidak membuat kaget pasar mengingat saat ini properti dan proyek konstruksi mulai kembali berjalan.

Stephanus mengatakan pasar baja ringan tidak akan mampu menyerap harga lebih dari Rp100.000.

Dia pun menduga kenaikan harga hulu ini akan terjadi hingga kuartal III/2021 mendatang. Meski demikian, ARFI menyebut belum akan melakukan koreksi target tahun ini.

Tahun lalu, produksi nasional baja ringan hanya 85 persen atau sekitar 600.000 ton dari total kapasitas 800.000 ton. Tahun ini ARFI optimistis akan mencapai tingkat produksi lebih baik atau berkisar 750.000 ton.

Hal senada juga disampakan sebelumnya oleh Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) yang memperkirakan konsumsi baja akan meningkat kembali dengan pertumbuhan 5 persen pada tahun ini dan diharapkan dapat mencapai angka 15,8 juta ton atau kembali ke tingkat konsumsi tahun 2019. 

Sementara itu dengan proyeksi optimistis, yakni asumsi pertumbuhan PDB lebih dari 5 persen, maka konsumsi baja diprediksi dapat tumbuh sampai 7 persen menjadi 16,1 juta ton.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur industri baja
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top