Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terjebak antara 2 Risiko Besar, Negara Berkembang Masuk Zona Volatilitas Baru

Tarik menarik antara kebijakan akomodatif dan pertumbuhan yang kuat tidak mungkin menggagalkan pemulihan, tetapi tetap saja dapat mengakibatkan peningkatan volatilitas.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 22 Maret 2021  |  06:32 WIB
Aktivitas perdagangan saham di New York Stock Exchange. Wall Street kembali mencetak rekor tertinggi setelah reli saham-saham teknologi, Selasa (1/9/2020). - Bloomberg
Aktivitas perdagangan saham di New York Stock Exchange. Wall Street kembali mencetak rekor tertinggi setelah reli saham-saham teknologi, Selasa (1/9/2020). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar negara berkembang akan memasuki periode baru volatilitas karena bank sentral tengah berjuang untuk menahan laju inflasi sambil menjaga api pertumbuhan ekonomi tetap menyala.

Meskipun Federal Reserve minggu lalu mengindikasikan bahwa pihaknya tidak terburu-buru untuk menaikkan suku bunga - memicu kenaikan lebih lanjut dalam dolar AS dan imbal hasil Treasury AS - kenaikan suku bunga di Rusia, Turki dan Brasil justru menggarisbawahi dilema tersebut.

Bank sentral Thailand, Afrika Selatan dan Meksiko termasuk di antara mereka yang bertemu untuk memutuskan suku bunga minggu ini.

"Tarik menarik antara kebijakan akomodatif dan pertumbuhan yang kuat tidak mungkin menggagalkan pemulihan, tetapi tetap saja dapat mengakibatkan peningkatan volatilitas," tulis Christian Keller dan Michael Gapen dari Barclays Capital dalam sebuah laporan yang diterbitkan Sabtu lalu (20/3/2021).

“Tantangan pasar berkembang dari imbal hasil AS yang lebih tinggi dan dolar yang meningkat oleh keputusan bank sentral."

Mata uang negara berkembang masih memperoleh keuntungan minggu lalu sehingga berhasil mengakhiri penurunan mingguan terpanjang sejak Agustus 2019. Lira, rand, dan real mencetak apresiasi yang paling kuat. Obligasi dalam mata uang lokal dan dalam denominasi dolar juga menghentikan penurunan beberapa minggu, meskipun indeks MSCI Inc. turun untuk pertama kalinya sejak 26 Februari 2021.

Di tengah kondisi ini, geopolitik global tidak membantu. Pembicaraan tingkat tinggi AS-China pertama sejak Presiden Joe Biden menjabat berakhir dengan pertengkaran minggu lalu, yang menggambarkan perpecahan masih ada antara kedua negaranya.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin membalas Biden setelah pemimpin AS menuduhnya sebagai 'pembunuh'.

Pasar negara berkembang sendiri akan terus terikat pada pergerakan imbal hasil US Treasury karena ekspektasi inflasi meningkat. Pasar harus menyerap penjualan minggu ini yang mencakup surat utang bertenor tujuh tahun senilai US$62 miliar yang jatuh tempo bulan lalu. Hasil pada benchmark US Treasury tenor 10 tahun tercatat naik untuk lima hari berturut-turut dan menjadi kenaikan beruntun terpanjang sejak awal 2018.

"Ada peluang untuk lebih banyak penderitaan aset pendapatan tetap negara berkembang," kata Danny Fang, Ahli Strategi di BBVA di New York.

Dia mengungkapkan kenaikan suku bunga AS adalah cerminan dari kekhawatiran inflasi yang sedang berlangsung.

"Ada kekhawatiran inflasi di beberapa bagian pasar negara berkembang juga, tetapi di luar inflasi, suku bunga AS yang lebih tinggi juga dapat menaikkan suku bunga lokal dalam jangka pendek. "

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi bank sentral us treasury

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top