Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Meja Perundingan AS dan China Diwarnai Aksi Saling Tuding

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken menuding aksi China mengancam stabilitas global. Sementara itu, pejabat diplomasi tertinggi Partai Komunis China Yang Jiechi mengancam melakukan tindakan tegas terhadap 'campur tangan AS'.
Joe Biden (kiri) saat masih menjabat Wapres AS bertemu Presiden China Xi Jinping dalam satu kesempatan di Balai Agung Rakyat China di Beijing pada 2011./Antara/HO-China Daily
Joe Biden (kiri) saat masih menjabat Wapres AS bertemu Presiden China Xi Jinping dalam satu kesempatan di Balai Agung Rakyat China di Beijing pada 2011./Antara/HO-China Daily

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengatakan tindakan China mengancam tatanan stabilitas global.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) pada Kamis (18 Maret) dalam pembukaan pertemuan dua hari dengan pemerintah China di Alaska.

Pihak AS akan membahas keprihatinan mendalam kami dengan tindakan China, termasuk Xinjiang, di mana Washington menuduh Beijing melakukan genosida terhadap Muslim Uyghur.

Di depan pejabat diplomasi tertinggi Partai Komunis China Yang Jiechi, dan Menteri Luar Negeri Wang Yi, Blinken juga menegaskan kedua pihak akan membahas tentang Hong Kong, Taiwan, serangan dunia maya di Amerika Serikat, pemaksaan ekonomi terhadap sekutu AS.

Penasihat keamanan nasional Presiden Joe Biden Jake Sullivan menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak menginginkan konflik dengan China tetapi menyambut persaingan yang ketat dengan saingan strategisnya tersebut.

"Dan kami akan selalu membela prinsip kami untuk orang-orang kami, dan untuk teman-teman kami," tegas Sullivan, dikutip dari Channel News Asia.

Yang menanggapi dengan pidato 15 menit dalam bahasa Mandarin sementara pihak AS menunggu terjemahan dari pidato tersebut.

China sendiri mengecam aksi perjuangan demokrasi yang ditunjukkan AS dan perlakuan buruk terhadap minoritas.

Dia mengancam melakukan tindakan tegas terhadap 'campur tangan AS' dan menyerukan diakhirinya 'mentalitas Perang Dingin' yang menghambat persaingan sehat.

"China dengan tegas menentang campur tangan AS dalam urusan dalam negeri China. Kami telah menyatakan penolakan keras kami terhadap campur tangan tersebut, dan kami akan mengambil tindakan tegas sebagai tanggapan," tegas Yang.

"Yang perlu kami lakukan adalah meninggalkan mentalitas Perang Dingin, dan pendekatan zero-sum game," sambungnya.

Yang menuturkan bahwa AS telah menggunakan kekuatan militer dan hegemoni keuangannya untuk menjalankan yurisdiksi 'lengan panjang' dan menekan negara lain.

"Itu menyalahgunakan apa yang disebut gagasan keamanan nasional untuk menghalangi pertukaran perdagangan normal, dan menghasut beberapa negara untuk menyerang China," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Hadijah Alaydrus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper