Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kekurangan Pengiriman Kontainer Baru Perparah Gejolak Perdagangan Dunia

Pandemi dan ledakan perdagangan pada paruh kedua tahun lalu telah menguras pasokan sekitar 25 juta boks dan mengejutkan produsen peti kemas, yang kebanyakan merupakan perusahaan China.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 17 Maret 2021  |  10:02 WIB
Proses pemuatan kontainer berisi semen merk tiga roda. - indocement
Proses pemuatan kontainer berisi semen merk tiga roda. - indocement

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen terbesar di dunia tengah berjuang untuk memenuhi lonjakan permintaan kotak kontainer yang mengangkut sekitar 90 persen barang di seluruh ekonomi global.

Pandemi dan ledakan perdagangan pada paruh kedua tahun lalu telah menguras pasokan sekitar 25 juta boks dan mengejutkan produsen peti kemas, yang kebanyakan merupakan perusahaan China.

Produsen telah meningkatkan produksinya sejak saat itu, tetapi mereka tidak dapat menutup kekurangan yang telah menyebabkan kenaikan tarif angkutan selama enam bulan.

Kelangkaan peti kemas dan kemacetan pelabuhan yang menyertainya dapat berlanjut hingga paruh kedua 2021, dengan pemulihan di AS dan ekonomi Eropa diperkirakan akan menjaga permintaan tetap tinggi untuk barang-barang China.

“Harus ada cukup boks untuk mengatasi tingkat permintaan dalam kondisi normal,” kata Simon Heaney, manajer senior penelitian peti kemas di Drewry Shipping Consultants Ltd, dilansir Bloomberg, Rabu (17/3/2021).

Dia melanjutkan, masalahnya adalah bahwa penggunaan boks kontainer menjadi molor karena berbagai penundaan di pelabuhan. Sehingga butuh waktu lebih lama untuk boks digilir ke pengguna berikutnya.

Menurut China International Marine Containers Co., produsen terbesar di dunia, industri manufaktur peti kemas memasuki 2020 dalam posisi yang tidak baik, dengan produksi dan penjualan di China turun pada 2019.

Li Muyuan, Wakil Presiden Asosiasi Industri Kontainer China (CMIC), mengatakan ada juga surplus yang sangat besar, setara dengan lebih dari 3 juta peti kemas kosong berukuran 20 kaki di pelabuhan China pada akhir Maret tahun lalu dan 1,2 juta dalam penyimpanan di pabrikan peti kemas.

Surplus itu, dikombinasikan dengan ekspektasi bahwa perdagangan akan runtuh karena Covid-19 menyebar secara global, menyebabkan penurunan pesanan ke produsen peti kemas China, yang menyumbang lebih dari 90 persen pasokan dunia.

Hampir tidak ada pesanan baru untuk industri dalam lima bulan pertama 2020. Namun, situasinya berbalik sekitar pertengahan tahun, ketika konsumen di AS dan di tempat lain menggunakan komputer dan peralatan bekerja di rumah atau mendekorasi rumah mereka, dan impor masker dan barang terkait pandemi lainnya melonjak.

Meningkatnya ekspor dari China kemudian menyebabkan membanjirnya pesanan untuk peti kemas baru, dalam beberapa kasus menggandakan harga menjadi lebih dari US$ 3.000 untuk peti kemas standar berukuran 20 kaki.

CIMC mengatakan telah menambah 5.000 pekerja sejak September tahun lalu dan bahkan menjalankan beberapa jalur produksi selama liburan Tahun Baru Imlek bulan lalu. Produksi naik menjadi 300.000 unit setara 20 kaki pada September, kemudian menjadi 440.000 pada Januari.

Namun itu tidak juga menutupi fakta bahwa tak ada cukup banyak kontainer bekas yang dikembalikan dari luar negeri ke China untuk diisi ulang dan diekspor kembali.

Menurut Ken Hoexter, seorang analis industri transportasi di Bank of America di New York, operator laut yang memiliki atau menyewa sebagian besar peti kemas yang digunakan secara agresif mencoba untuk mendapatkan kembali boks-boks tersebut dari AS ke Asia. Namun, ketatnya pasar transportasi saat ini akan berlanjut setidaknya hingga pertengahan tahun atau lebih lama lagi.

Industri perkapalan mencoba mengejar ketinggalan ini, tetapi sejumlah faktor semakin memperparah kekurangan, yakni kombinasi dari persediaan yang sangat rendah, kemacetan pelabuhan di AS, permintaan konsumen yang meningkat, kurangnya waktu henti di China selama Tahun Baru Imlek, dan kini paket stimulus pemerintah Biden senilai US$ 1,9 triliun.

Mai Boliang, CEO dan ketua CIMC, mengatakan bahkan dengan meningkatnya produksi kontainer baru, situasinya tidak akan menjadi lebih baik sampai Juni ketika peluncuran vaksin akan meredakan pandemi dan kontainer mulai kembali ke China.

“Saat kami secara bertahap keluar dari ekonomi Covid menjelang akhir tahun, kami akan melihat normalisasi perdagangan peti kemas,” kata Olivier Ghesquiere, presiden dan kepala eksekutif perusahaan persewaan boks Textainer Group Holdings Ltd.

Namun menurutnya, kelebihan kontainer di pasar tidak akan terjadi. Dia mencatat bahwa kapasitas produksi hampir terjual habis untuk paruh pertama tahun ini. Itu berarti tarif angkut yang tinggi, dapat berlanjut untuk beberapa waktu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat kontainer

Sumber : Bloomberg

Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top